{"id":33521,"date":"2024-11-22T15:54:01","date_gmt":"2024-11-22T08:54:01","guid":{"rendered":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/?p=33521"},"modified":"2024-11-22T15:54:03","modified_gmt":"2024-11-22T08:54:03","slug":"pencerahan-hukum-hari-ini-rabu-20-november-2024","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pencerahan-hukum-hari-ini-rabu-20-november-2024\/","title":{"rendered":"Pencerahan Hukum Hari Ini (Rabu, 20 November 2024)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">KAIDAH HUKUM PIDANA PASAL 310 (3) KUHP MENURUT MAHKAMAH AGUNG ADALAH &#8220;PERBUATAN-PERBUATAN YANG DILAKUKAN OLEH PEMBELA UNTUK MEMPERTAHANKAN KEPENTINGAN YANG DIBELANYA, DIANGGAP TELAH DILAKUKANNYA KARENA TERPAKSA (NOODZAKELIJKE VERDEDIGING) ASALKAN SAJA PERBUATAN-PERBUATAN PEMBELAAN ITU DILAKUKANNYA DENGAN BAIK DAN DENGAN CARA YANG TIDAK BERKELEBIHAN&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apabila kita menengok kembali sejarah pembentukan Pasal 16 UU Advokat, kita perlu mencermati dua kaidah dalam pertimbangan hukum Putusan MA No. 109 K\/Kr\/1970, tanggal 10 Januari 1973 dalam perkara yang dihadapi oleh legenda Advokat Yap Thiam Hien yang pada waktu itu didakwa &#8220;menghina&#8221; dua orang pejabat tinggi dari dua institusi penegak hukum di masa Orde Baru:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kaidah Hukum Acara Pidana<\/strong> : Pasal 254 (1) HIR: &#8220;Hak tertuduh untuk melakukan pembelaan dalam persidangan pengadilan, dianggap telah dilimpahkan kepada pembelanya, dengan pelimpahan mana pembelanya berkewajiban untuk membela kepentingan yang dibelanya dengan baik.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kaidah Hukum Pidana<\/strong> : Pasal 310 (3) KUHP: &#8220;Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh pembela untuk mempertahankan kepentingan yang dibelanya, dianggap telah dilakukannya karena terpaksa <em>(noodzakelijke verdediging)<\/em> asalkan saja perbuatan-perbuatan pembelaan itu dilakukannya dengan baik dan dengan cara yang tidak berkelebihan.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masih dalam perspektif advokat yang menjalankan profesinya. menurut hemat Penulis, frasa &#8220;iktikad baik&#8221; <em>(bona fide\/te goede trouw)<\/em> dalam Pasal 16 UU Advokat harus selalu dapat dinilai menurut kode etik profesi advokat, dan tentunya &#8220;melaksanakan undang undang&#8221; sebagai alasan pembenar tidak boleh ditafsirkan secara serampangan sehingga advokat yang melakukan tindak pidana misalnya memalsukan bukti atau melakukan suap tidak bisa dimaknai sebagai &#8220;iktikad baik&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pasal 16 UU Advokat:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8216;Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien di dalam maupun di luar sidang pengadilan&#8217;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buku &#8220;Hukum Pidana Indonesia Menurut KUHP Lama dan KUHP Baru&#8221;, karya: Dr. Albert Aries, S.H., M.H.; Penerbit: Raja Grafindo, Hal. 185-186.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salam Pancasila,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fredrik J. Pinakunary<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KAIDAH HUKUM PIDANA PASAL 310 (3) KUHP MENURUT MAHKAMAH AGUNG ADALAH &#8220;PERBUATAN-PERBUATAN YANG DILAKUKAN OLEH PEMBELA UNTUK MEMPERTAHANKAN KEPENTINGAN YANG DIBELANYA, DIANGGAP TELAH DILAKUKANNYA KARENA TERPAKSA (NOODZAKELIJKE VERDEDIGING) ASALKAN SAJA PERBUATAN-PERBUATAN PEMBELAAN ITU DILAKUKANNYA DENGAN BAIK DAN DENGAN CARA YANG TIDAK BERKELEBIHAN&#8221; Apabila kita menengok kembali sejarah pembentukan Pasal 16 UU Advokat, kita perlu mencermati [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"off","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[320],"tags":[],"class_list":["post-33521","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pencerahan-hukum-hari-ini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33521","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33521"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33521\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33522,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33521\/revisions\/33522"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33521"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33521"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33521"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}