{"id":30433,"date":"2021-04-28T13:59:09","date_gmt":"2021-04-28T06:59:09","guid":{"rendered":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/?p=30433"},"modified":"2022-03-14T11:30:43","modified_gmt":"2022-03-14T04:30:43","slug":"saksi-saksi-yang-tidak-dapat-didengar-keterangannya-dan-dapat-mengundurkan-diri-sebagai-saksi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-saksi-yang-tidak-dapat-didengar-keterangannya-dan-dapat-mengundurkan-diri-sebagai-saksi\/","title":{"rendered":"Saksi-Saksi yang Tidak Dapat Didengar Keterangannya dan Dapat Mengundurkan Diri Sebagai Saksi"},"content":{"rendered":"\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Secara umum, baik dalam perkara pidana maupun perkara perdata, seseorang yang melihat, mendengar, atau mengalami sesuatu peristiwa dapat menjadi seorang saksi dan memberikan keterangannya, baik di hadapan pengadilan atau apabila dalam perkara pidana dapat memberikan keterangan sejak proses penyelidikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Tetapi, undang-undang mengatur bahwa untuk orang-orang tertentu mereka tidak dapat menjadi saksi dan memberikan keterangannya akan suatu perkara. Selain itu, ada juga orang-orang yang masih bisa memberikan keterangan sebagai saksi tetapi memiliki hak untuk mengundurkan diri sebagai saksi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Ketentuan terkait hal di atas diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana- <strong>KUHAP<\/strong>) untuk perkara pidana dan dalam <em>Herzien Inlandsch Reglement<\/em>\u00a0(<strong>HIR<\/strong>)\/<em> Reglement Tot\u00a0Regeling\u00a0van Rechts In De Gewesten Buiten Java en Madura<\/em> (<strong>R<\/strong><strong>B<\/strong><strong>g<\/strong>) untuk perkara perdata.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Saksi dalam <\/strong><strong>H<\/strong><strong>ukum Pidana<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam ketentuan Pasal 1 angka 26 KUHAP, saksi didefinisikan sebagai berikut:\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\r\n<p>\u201c<em>Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri<\/em>.\u201d<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sejalan dengan definisi di atas, maka keterangan yang dapat diberikan oleh seorang saksi adalah terkait dengan \u2018\u2026<em>suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.<\/em>\u201d (Pasal 1 angka 27 KUHAP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65\/PUU-VIII\/2010 telah memperluas definisi saksi dalam Pasal 1 angka 26. Saksi tidak hanya mereka yang melihat, mendengar, ataupun mengalami sendiri peristiwa pidana, melainkan juga mereka yang memiliki pengetahuan tentang suatu peristiwa pidana, sekalipun orang tersebut tidak melihat, mendengar, ataupun mengalami sendiri peristiwa pidana yang dimaksud. Dalam hal ini, saksi yang memberikan keterangan yang bersifat \u2018<em>de auditu<\/em>\u2019 dapat memberikan keterangannya yang ia peroleh dari orang lain tersebut (<em>de auditu<\/em>).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Saksi dalam Hukum Perdata<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam hukum perdata, tidak didefinisikan dengan detail mengenai siapa itu saksi seperti dalam KUHAP. Ketentuan dalam HIR dan RBg terkait dengan keterangan saksi hanya mengatur tentang keterangan apa yang dapat diberikan oleh seorang saksi. Dalam Pasal 171 HIR\/ 308 RBg diatur bahwa:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ol class=\"wp-block-list\">\r\n<li>Tiap-tiap kesaksian harus berisi segala sebab pengetahuan;<\/li>\r\n<li>Pendapat-pendapat atau persangkaan yang, istimewa, yang disusun dengan kata akal, bukan kesaksian.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dari ketentuan ini maka dalam memberikan keterangannya seorang saksi juga harus memberikan alasan bagaimana ia mengetahui hal-hal yang ia jelaskan tersebut. Saksi tidak diperkenankan untuk memberikan pendapat atau persangkaannya. Dengan demikian, dapat diaritkan bahwa seorang saksi hanya bisa memberikan kesaksian terhadap hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, atau ia alami sendiri.<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berbeda dengan saksi dalam hukum pidana, kesaksian yang didapat dari orang lain (<em>de auditu<\/em>) tidak dapat dianggap sebagai alat bukti keterangan saksi. Namun dalam dalam praktek keterangan yang bersifat <em>de auditu<\/em> ini dapat dianggap sebagai alat bukti persangkaan. <a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Orang-Orang yang Keterangannya <\/strong><strong>T<\/strong><strong>idak <\/strong><strong>D<\/strong><strong>apat <\/strong><strong>D<\/strong><strong>idengar dan <\/strong><strong>D<\/strong><strong>apat <\/strong><strong>M<\/strong><strong>engundurkan <\/strong><strong>D<\/strong><strong>iri sebagai Saksi <\/strong><strong>d<\/strong><strong>alam Hukum Pidana<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Selanjutnya, yang perlu dipahami adalah sekalipun seseorang memenuhi kategori sebagai saksi karena memperoleh pengetahuan akan suatu kejadian, orang tersebut mungkin saja tidak bisa memberikan kesaksiannya karena dirinya memenuhi kriteria tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan Pasal 168 KUHAP orang-orang yang tidak dapat didengarkan keterangannya sebagai saksi, dan kepada orang-orang ini dapat mengundurkan diri sebagai saksi, antara lain:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"a\">\r\n<li>keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa;<\/li>\r\n<li>saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga;<\/li>\r\n<li>suami atau istri terdakwa maupun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Orang-orang yang disebutkan dalam pasal 168 KUHAP ini masih bisa memberikan kesaksiannya, apabila memenuhi persyaratan, yaitu dikehendaki oleh yang bersangkutan sendiri dan penuntut umum serta terdakwa memberikan persetujuan secara tegas. Apabila penuntut umum atau terdakwa tidak memberikan persetujuan maka yang bersangkutan tetap diperbolehkan untuk memberikan keterangan, hanya saja ia tidak disumpah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Selain orang-orang yang disebutkan dalam pasal 168 KUHAP, orang-orang yang masuk dalam kategori Pasal 170 KUHAP diberikan hak untuk mengundurkan diri sebagai saksi. Pasal 170 KUHAP menjelaskan sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\r\n<p>\u201c<em>Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.<\/em>\u201d<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><br \/>Orang-orang dalam kategori ini bisa minta dibebaskan untuk bersaksi karena pekerjaan mereka menuntut mereka untuk menjaga rahasia, dan yang dapat dirahasiakan hanyalah hal-hal yang dipercayakan kepada orang tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Perlu juga dipahami, orang-orang yang memiliki tuntutan untuk menyimpan rahasia tersebut adalah karena pekerjaan, jabatan, atau harkat martabatnya telah diatur oleh undang-undang terkait wajib untuk menjaga rahasia (penjelasan Pasal 170 ayat (1) KUHAP). Lebih lanjut, apabila dalam faktanya undang-undang tidak mengatur apakah suatu pekerjaan atau jabatan, wajib menjaga rahasia, maka terkait sah atau tidaknya pengunduran diri orang-orang yang memiliki pekerjaan atau jabatan tersebut sebagai saksi hanya dapat dinilai oleh Hakim (Pasal 170 ayat (2), lihat juga penjelasannya).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Selain itu, orang-orang berikut ini bisa memberikan keterangan tanpa sumpah (Pasal 171 KUHAP):<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"a\">\r\n<li>anak yang umurnya belum cukup lima belas tahun dan belum pernah kawin;<\/li>\r\n<li>orang sakit ingatan atau sakit jiwa meskipun kadang-kadang ingatannya baik kembali.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Keterangan orang-orang ini tidak dianggap sebagai sebuah alat bukti karena keterangan mereka tidak diberikan dibawah sumpah. Keterangan mereka hanya dianggap sebagai petunjuk. Penjelasan Pasal 171 KUHAP memberikan penjelasan kenapa orang-orang ini dapat memberikan keterangan tidak disumpah:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\r\n<p><em>\u201cMengingat bahwa anak yang belum berumur lima belas tahun, demikian juga orang yang sakit ingatan, sakit jiwa, sakit gila meskipun hanya kadang-kadang saja, yang dalam ilmu penyakit jiwa disebut psychopat, mereka ini tidak dapat dipertanggungjawabkan secara sempurna dalam hukum pidana maka mereka tidak dapat diambil sumpah atau janji dalam memberikan keterangan, karena itu keterangan mereka hanya dipakai sebagai petunjuk saja.\u201d<\/em><\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><strong>Persyaratan Saksi Wajib Disumpah<\/strong><\/h5>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Perlu diketahui, sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan Pasal 161 ayat (2) KUHAP, bahwa:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\r\n<p>\u201c<em>Keterangan saksi atau ahli yang tidak disumpah atau mengucapkan janji, tidak dapat dianggap sebagai alat bukti yang sah, tetapi hanyalah merupakan keterangan yang dapat menguatkan keyakinan hakim.<\/em>\u201d<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Oleh karena itu, dalam hal ini apabila orang-orang memberikan keterangan tanpa sumpah maka keterangan mereka hanya dapat dipergunakan untuk mendukung keterangan saksi lainnya, yang diberikan di bawah sumpah (Pasal 185 ayat (7)).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dengan demikian, apabila dalam suatu perkara pidana hanya terhadap satu saksi, tetapi saksi tersebut tidak disumpah, maka dapat dikatakan dalam kasus tersebut tidak ada bukti keterangan saksi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><br \/>Perlu diingat juga adanya prinsip <em>unus testis nullus testis<\/em> yang tercermin dalam ketentuan Pasal 185 ayat (2) dan (3) KUHAP:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\r\n<p><em>(2) Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.<\/em><br \/><em>(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya.<\/em><\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan ketentuan ini, untuk dapat membuktikan sesuatu hal maka perlu adanya setidaknya 2 alat bukti. Apabila hanya memiliki satu saksi, tetapi keterangannya tidak dibuat di bawah sumpah, maka, untuk mendukung dalil yang diajukan perlu didukung alat bukti lainnya, baik keterangan dari saksi yang lain, ataupun alat-alat bukti lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Orang-orang yang <\/strong><strong>T<\/strong><strong>idak <\/strong><strong>D<\/strong><strong>apat <\/strong><strong>D<\/strong><strong>idengarkan <\/strong><strong>K<\/strong><strong>eterangannya dan <\/strong><strong>M<\/strong><strong>engundurkan <\/strong><strong>D<\/strong><strong>iri sebagai <\/strong><strong>S<\/strong><strong>aksi dalam <\/strong><strong>Hukum<\/strong><strong> Perdata<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pasal 145 ayat (1) <em>Herzien Inlandsch Reglement<\/em>\u00a0(HIR) \/Pasal 172 ayat (1) <em>Reglement Tot\u00a0Regeling\u00a0van Rechts In De Gewesten Buiten Java en Madura<\/em> (RBg), mengatur tentang orang-orang yang tidak dapat didengar kesaksiannya, antara lain:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><em>Sebagai saksi tidak dapat didengar:<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"i\">\r\n<li><em>keluarga sedarah dan keluarga semenda dari salah satu pihak menurut keturunan yang lulus<\/em><em>;<\/em><\/li>\r\n<li><em>istri atau laki dari salah satu pihak, meskipun sudah ada perceraian;<\/em><\/li>\r\n<li><em>anak-anak yang tidak diketahui benar apa sudah cukup umurnya lima belas tahun;<\/em><\/li>\r\n<li><em>orang, gila, meskipun ia terkadang-kadang mempunyai ingatan terang.<\/em><\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Walaupun pasal 172 ayat (1) RBg adalah ketentuan yang sama dengan Pasal 145 ayat (1) HIR, namun dalam Rbg terdapat perbedaan dengan HIR. Ketentuan Pasal 172 ayat (1) RBg, adalah sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<div class=\"wp-block-group\">\r\n<div class=\"wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow\">\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\r\n<p><em>(1) Tidak boleh didengar sebagai saksi adalah mereka:<\/em><br \/>1. <em>yang mempunyai hubungan kekeluargaan dalam garis lurus karena sedarah atau karena perkawinan dengan salah satu pihak;<\/em><br \/>2. <strong><em>saudara-saudara lelaki atau perempuan dari ibu dan anak-anak dari saudara perempuan di daerah Bengkulu, Sumatera Barat dan Tapanuli sepanjang hukum waris di sana mengikuti ketentuan-ketentuan Melayu;<\/em><\/strong><br \/>3. <em>suami atau istri salah satu pihak, juga setelah mereka bercerai;<\/em><br \/>4. <em>anak-anak yang belum dapat dipastikan sudah berumur lima belas tahun;<\/em><br \/>5. <em>orang gila, meskipun ia kadang-kadang dapat menggunakan pikirannya dengan baik.<\/em><\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Terkait dengan orang-orang yang disebutkan ini, dijelaskan lebih lanjut dalam Pasal 145 HIR\/172 RBg, bahwa:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\">\r\n<li>Untuk keluarga sedarah dan semenda tidak dapat ditolak sebagai saksi dalam perkara-perkara yang merupakan perselisihan kedua belah pihak tentang keadaan menurut hukum perdata atau tentang suatu perjanjian pekerjaan. Maksudnya perselisihan keadaan menurut hukum perdata adalah perselisihan terkait perkawinan, perceraian, keturunan dan lainnya. Sedangkan perjanjian pekerjaan di sini diartikan sebagai perjanjian kerja dalam ruang lingkup hukum perburuhan.<\/li>\r\n<li>Terkait dengan anak-anak yang belum diketahui sudah beruntun lima belas tahun dan orang gila, tetap dapat diperiksa di hadapan hakim dalam pengadilan, namun dengan tidak disumpah. Lebih lanjut, keterangan yang diberikan oleh mereka ini tidak dianggap sebagai alat bukti, melainkan hanya sebatas penjelasan.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Selain itu, Pasal 146 ayat (1) HIR\/Pasal 174 RBg mengatur tentang orang-orang yang dapat mengundurkan diri sebagai saksi, antara lain:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\">\r\n<li>saudara laki dan saudara perempuan, dan ipar laki-laki dan perempuan dari salah satu pihak;<\/li>\r\n<li>keluarga sedarah menurut keturunan yang lurus dan saudara laki-laki dan perempuan dari laki atau isteri salah satu pihak;<\/li>\r\n<li>semua orang yang karena kedudukan pekerjaan atau jabatannya yang syah, diwajibkan menyimpan rahasia; tetapi semata-mata hanya mengenai hal demikian yang dipercayakan padanya.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sebagai catatan, terhadap orang-orang yang disebutkan dalam poin pertama dan kedua paragraf di atas ini tidak dapat mengundurkan diri untuk memberikan kesaksian dalam perkara perkara terkait keadaan hukum perdata (perkawinan, perceraian, keturunan dan lainnya) serta perkara perjanjian pekerjaan (Pasal 145 ayat (3) HIR\/ Pasal 172 ayat (3) RBg).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Terhadap orang yang dapat mengundurkan diri sebagai saksi karena pekerjaan dan jabatan yang diwajibkan menyimpan rahasia, maka perihal benar atau tidaknya hal tersebut ditentukan berdasarkan pertimbangan hakim (pasal 146 ayat (2) HIR\/Pasal 174 ayat (2) RBg)<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Demikian kami sampaikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<div class=\"wp-block-group\">\r\n<div class=\"wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow\">\r\n<div class=\"wp-block-spacer\" style=\"height: 25px;\" aria-hidden=\"true\">\u00a0<\/div>\r\n\r\n\r\n\r\n<h6 class=\"wp-block-heading\"><strong>FREDRIK J PINAKUNARY LAW OFFICES<\/strong><\/h6>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-normal-font-size wp-block-paragraph\"><strong>LinkedIn: <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/company\/fjp-law-offices\/?viewAsMember=true\">FJP Law Offices<\/a> | Facebook: <a href=\"https:\/\/web.facebook.com\/FJPLaw\/\">@FJPLaw<\/a> | Instagram: <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/fredrik_jp\/\">@fredrik_jp<\/a><\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<div class=\"wp-block-spacer\" style=\"height: 26px;\" aria-hidden=\"true\">\u00a0<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n\r\n\r\n\r\n<div class=\"wp-block-group alignwide\">\r\n<div class=\"wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow\">\r\n<div class=\"wp-block-spacer\" style=\"height: 27px;\" aria-hidden=\"true\">\u00a0<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"wp-block-group\">\r\n<div class=\"wp-block-group__inner-container\">\r\n\r\n\r\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Artikel Terkait Lainnya<\/h4>\r\n\r\n\r\n<ul class=\"wp-block-latest-posts__list alignleft wp-block-latest-posts is-layout-flow wp-block-latest-posts-is-layout-flow\"><li><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/konsekuensi-hukum-dari-tindak-pidana-kdrt-dan-cara-melaporkannya\/\">Konsekuensi Hukum dari Tindak Pidana KDRT dan Cara Melaporkannya<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-saksi-yang-tidak-dapat-didengar-keterangannya-dan-dapat-mengundurkan-diri-sebagai-saksi\/\" aria-label=\"Saksi-Saksi yang Tidak Dapat Didengar Keterangannya dan Dapat Mengundurkan Diri Sebagai Saksi\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"169\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Saksi-yang-tidak-dapat-didengar-sebagai-Saksi-300x169.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-saksi-yang-tidak-dapat-didengar-keterangannya-dan-dapat-mengundurkan-diri-sebagai-saksi\/\">Saksi-Saksi yang Tidak Dapat Didengar Keterangannya dan Dapat Mengundurkan Diri Sebagai Saksi<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penyelesaian-tindak-pidana-dalam-undang-undang-informasi-dan-transaksi-elektronik-berdasarkan-prinsip-keadilan-restoratif-restorative-justice\/\" aria-label=\"Penyelesaian Tindak Pidana dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik berdasarkan Prinsip Keadilan Restoratif (Restorative Justice)\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"169\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/Keadilan-Restoratif-UU-ITE-300x169.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penyelesaian-tindak-pidana-dalam-undang-undang-informasi-dan-transaksi-elektronik-berdasarkan-prinsip-keadilan-restoratif-restorative-justice\/\">Penyelesaian Tindak Pidana dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik berdasarkan Prinsip Keadilan Restoratif (Restorative Justice)<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/keadilan-restoratif-restorative-justice-dalam-hukum-acara-pidana-indonesia\/\" aria-label=\"Keadilan Restoratif (Restorative Justice) Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"169\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/Keadilan-Restoratif-dalam-Hukum-Acara-Pidana-Indonesia-300x169.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/keadilan-restoratif-restorative-justice-dalam-hukum-acara-pidana-indonesia\/\">Keadilan Restoratif (Restorative Justice) Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penerapan-tilang-elektronik\/\" aria-label=\"Penerapan Tilang Elektronik\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"169\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/Tilang-Elektronik-300x169.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penerapan-tilang-elektronik\/\">Penerapan Tilang Elektronik<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/kerugian-anak-perusahaan-bumn-bumd-dan-keuangan-negara\/\" aria-label=\"Kerugian Anak Perusahaan BUMN\/BUMD dan Keuangan Negara\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"169\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Kerugian-Anak-Perusahaan-BUMN-BUMD-dan-Keuangan-Negara-300x169.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/kerugian-anak-perusahaan-bumn-bumd-dan-keuangan-negara\/\">Kerugian Anak Perusahaan BUMN\/BUMD dan Keuangan Negara<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/konsekuensi-hukum-jika-membeli-barang-black-market\/\" aria-label=\"Konsekuensi Hukum Jika Membeli Barang Black Market\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"195\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Konsekuensi-Hukum-Jika-Membeli-Barang-Black-Market-300x195.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/konsekuensi-hukum-jika-membeli-barang-black-market\/\">Konsekuensi Hukum Jika Membeli Barang Black Market<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/konsekuensi-hukum-bagi-peretas-atau-penyadap-perangkat-telekomunikasi-milik-orang-lain\/\" aria-label=\"Konsekuensi Hukum Bagi Peretas Atau Penyadap Perangkat Telekomunikasi Milik Orang Lain\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"221\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Konsekuensi-Hukum-Bagi-Peretas-Atau-Penyadap-Perangkat-Telekomunikasi-Milik-Orang-Lain-300x221.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/konsekuensi-hukum-bagi-peretas-atau-penyadap-perangkat-telekomunikasi-milik-orang-lain\/\">Konsekuensi Hukum Bagi Peretas Atau Penyadap Perangkat Telekomunikasi Milik Orang Lain<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/memahami-perbedaan-grasi-amnesti-abolisi-dan-rehabilitasi\/\" aria-label=\"Memahami Perbedaan Grasi, Amnesti, Abolisi, dan Rehabilitasi\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"225\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Memahami-Perbedaan-Grasi-Amnesty-Abolisi-Rehabilitasi-300x225.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/memahami-perbedaan-grasi-amnesti-abolisi-dan-rehabilitasi\/\">Memahami Perbedaan Grasi, Amnesti, Abolisi, dan Rehabilitasi<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/jerat-hukum-bagi-situs-film-bajakan\/\" aria-label=\"Jerat Hukum Bagi Situs Film Bajakan\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"218\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Situs-Film-Bajakan-300x218.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/jerat-hukum-bagi-situs-film-bajakan\/\">Jerat Hukum Bagi Situs Film Bajakan<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penerapan-asas-in-dubio-pro-reo\/\" aria-label=\"Penerapan Asas In Dubio Pro Reo\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"175\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/In-Dubio-Pro-Reo-300x175.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penerapan-asas-in-dubio-pro-reo\/\">Penerapan Asas In Dubio Pro Reo<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-dalam-hukum-pidana\/\" aria-label=\"Saksi Dalam Hukum Pidana\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"217\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/color-black-eyelash-human-body-face-criminal-987525-pxhere.com_-300x217.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-dalam-hukum-pidana\/\">Saksi Dalam Hukum Pidana<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/perlindungan-saksi-dan-korban\/\" aria-label=\"Perlindungan Saksi dan Korban\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"225\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Lembaga-Perlindungan-Saksi-dan-Korban-1-300x225.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/perlindungan-saksi-dan-korban\/\">Perlindungan Saksi dan Korban<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/batasan-batasan-terhadap-konten-yang-harus-diketahui-oleh-para-konten-kreator\/\" aria-label=\"Batasan-Batasan Terhadap Konten Yang Harus Diketahui oleh Para Konten Kreator\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"213\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/social-media-1405601_1280-300x213.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"Gambar oleh Thanks for your Like \u2022 donations welcome dari Pixabay\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/batasan-batasan-terhadap-konten-yang-harus-diketahui-oleh-para-konten-kreator\/\">Batasan-Batasan Terhadap Konten Yang Harus Diketahui oleh Para Konten Kreator<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/praperadilan-dalam-perkara-pidana\/\" aria-label=\"Praperadilan Dalam Perkara Pidana\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/protection-of-minors-2815845_1920-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/praperadilan-dalam-perkara-pidana\/\">Praperadilan Dalam Perkara Pidana<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/teori-tempat-terjadinya-perbuatan-melawan-hukum-dalam-perkara-penghinaan\/\" aria-label=\"Teori Tempat Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum Dalam Perkara Penghinaan\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"214\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/bullying-4378156_1280-300x214.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"Gambar oleh Linus Sch\u00fctz dari Pixabay\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/teori-tempat-terjadinya-perbuatan-melawan-hukum-dalam-perkara-penghinaan\/\">Teori Tempat Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum Dalam Perkara Penghinaan<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/e-court-sebuah-terobosan-dalam-pengadilan-indonesia\/\" aria-label=\"E-Court: Sebuah Terobosan Dalam Pengadilan Indonesia\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"191\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/e-court-300x191.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" srcset=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/e-court-300x191.jpg 300w, https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/e-court.jpg 470w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/e-court-sebuah-terobosan-dalam-pengadilan-indonesia\/\">E-Court: Sebuah Terobosan Dalam Pengadilan Indonesia<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/kekuatan-pembuktian-testimonium-de-auditu\/\" aria-label=\"Kekuatan Pembuktian Testimonium De Auditu\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/De-auditu-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/kekuatan-pembuktian-testimonium-de-auditu\/\">Kekuatan Pembuktian Testimonium De Auditu<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/contempt-of-court-di-indonesia\/\" aria-label=\"Contempt of Court di Indonesia\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/contempt-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/contempt-of-court-di-indonesia\/\">Contempt of Court di Indonesia<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/ancaman-pidana-bagi-pengusaha-yang-menumpuk-barang-saat-terjadi-kelangkaan\/\" aria-label=\"Ancaman Pidana Bagi Pengusaha yang Menumpuk Barang  saat Terjadi Kelangkaan\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"300\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/Fredrik-JP-1-circle-300x300.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/ancaman-pidana-bagi-pengusaha-yang-menumpuk-barang-saat-terjadi-kelangkaan\/\">Ancaman Pidana Bagi Pengusaha yang Menumpuk Barang  saat Terjadi Kelangkaan<\/a><\/li>\n<\/ul><\/div>\r\n<\/div>\r\n\r\n\r\n<hr class=\"wp-block-separator\" \/>\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> <strong>Yahya Harahap<\/strong>\u00a0dalam bukunya\u00a0<em>Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan\u00a0<\/em>(hal. 661) menjelaskan bahwa syarat materil saksi sebagai alat bukti berdasarkan\u00a0<strong>Pasal 171 HIR dan Pasal 1907<\/strong>\u00a0<strong>Kitab Undang-Undang Hukum Perdata\u00a0(\u201cKUH Perdata\u201d<\/strong>), keterangan yang diberikan harus berdasarkan sumber pengetahuan yang jelas. Dan sumber pengetahuan yang dibenarkan hukum mesti merupakan pengalaman, penglihatan atau pendengaran yang bersifat langsung dari peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan pokok perkara yang disengketakan para pihak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> Putusan Mahkamah Agung Nomor. 308 K\/Pdt\/1959.<\/p>\r\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Secara umum, baik dalam perkara pidana maupun perkara perdata, seseorang yang melihat, mendengar, atau mengalami sesuatu peristiwa dapat menjadi seorang saksi dan memberikan keterangannya, baik di hadapan pengadilan atau apabila dalam perkara pidana dapat memberikan keterangan sejak proses penyelidikan. Tetapi, undang-undang mengatur bahwa untuk orang-orang tertentu mereka tidak dapat menjadi saksi dan memberikan keterangannya akan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":30435,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1,31,30],"tags":[166,318,319],"class_list":["post-30433","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-hukum-acara-pidana","category-hukum-pidana","tag-saksi","tag-saksi-yang-tidak-dapat-didengar","tag-sumpah-saksi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30433","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30433"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30433\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31084,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30433\/revisions\/31084"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30435"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30433"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30433"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30433"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}