{"id":29980,"date":"2020-07-14T18:16:00","date_gmt":"2020-07-14T11:16:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/?p=29980"},"modified":"2022-03-14T11:26:38","modified_gmt":"2022-03-14T04:26:38","slug":"upaya-penyelesaian-sengketa-pada-pelayanan-publik-oleh-ombudsman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/upaya-penyelesaian-sengketa-pada-pelayanan-publik-oleh-ombudsman\/","title":{"rendered":"Upaya Penyelesaian Sengketa Pada Pelayanan Publik Oleh Ombudsman"},"content":{"rendered":"[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;3.22&#8243;][et_pb_row admin_label=&#8221;row&#8221; _builder_version=&#8221;3.25&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;3.25&#8243; custom_padding=&#8221;|||&#8221; custom_padding__hover=&#8221;|||&#8221;][et_pb_text admin_label=&#8221;Text&#8221; _builder_version=&#8221;3.27.4&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221;]<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Proses Penerimaan<br \/> Peserta Didik Baru atau\u00a0<a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/tag\/ppdb-dki-jakarta-2020\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">PPDB DKI<br \/> Jakarta 2020<\/a> telah mencapai titik akhir pada 8 Juli 2020. Sebelumnya,<br \/> PPDB DKI Jakarta tahap akhir masih dibuka pada 7-8 Juli 2020 untuk calon siswa<br \/> yang belum mendaftarkan diri sebagai peserta karena kendala tertentu. Namun<br \/> seleksi jalur afirmasi, zonasi, dan prestasi yang menjadi jalur umum peserta<br \/> masuk sekolah negeri di DKI Jakarta sudah berakhir terlebih dahulu. Selama<br \/> prosesnya PPDB DKI Jakarta 2020 tak berjalan mulus. Banyak masalah yang muncul,<br \/> salah satunya soal\u00a0kriteria usia pada jalur zonasi yang banyak diprotes<br \/> oleh orang tua murid.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Permasalahan<br \/> penerimaan siswa melalui sistim zonasi berdasarkan usia tertua menjadi \u00a0topik perbincangan hangat di DKI Jakarta, hal<br \/> ini disebabkan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan DKI yang dinilai oleh David<br \/> bertentangan dengan Pasal 25 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor<br \/> 44 Tahun 2019 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada Taman Kanak-Kanak,<br \/> Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah<br \/> Menengah Kejuruan (\u201c<strong>Permendikbud 44\/2019<\/strong>\u201d).<br \/> Terkait polemik ini, pengacara publik David Tobing telah melaporkan Kepala<br \/> Dinas Pendidikan DKI ke Ombudsman.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam Pasal 25<br \/> Permendikbud 44\/2019 yang mengatur penerimaan melalui zonasi, disebutkan:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Seleksi calon peserta didik baru kelas 7 (tujuh) SMP dan kelas 10 (sepuluh) SMA dilakukan dengan memprioritaskan jarak tempat tinggal terdekat ke Sekolah dalam wilayah zonasi yang ditetapkan.<\/li>\n<li>Jika jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka seleksi untuk pemenuhan kuota\/daya tampung terakhir menggunakan usia peserta didik yang lebih tua berdasarkan surat keterangan lahir atau akta kelahiran.<\/li>\n<\/ol>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dinas Pendidikan<br \/> DKI menjadikan usia menjadi faktor utama dalam penentuan peserta didik yang<br \/> diterima apabila peserta yang mendaftar melebihi kuota. Hal ini termuat dalam<br \/> Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan DKI No. 501\/2020 tentang Petunjuk<br \/> Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2020\/2021, yang menyatakan<br \/> jika melebihi daya tampung maka kriteria seleksi adalah usia tertua ke usia<br \/> termuda, urutan pilihan sekolah dan waktu mendaftar.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Menurt David Tobing<br \/> dan beberapa orang tua murid yang merasa dirugikan, seharusnya peserta yang<br \/> mendaftar baik masih dalam kuota maupun melebihi kuota tetap mengacu ke<br \/> Permendikbud yaitu ditentukan berdasarkan jarak tempat tinggal calon peserta<br \/> didik dengan sekolah.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Lalu, bagaimana<br \/> proses penyelesaian sengketa pelayanan publik oleh Ombudsman sebagaimana yang<br \/> dilakukan oleh pengacara David Tobing dengan melaporkan Kepala Dinas Pendidikan<br \/> DKI ke Ombudsman? Simak penjelasannya dibawah ini:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pasal 1<br \/> Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (\u201c<strong>UU Pelayanan Publik<\/strong>\u201d) menjelaskan bahwa<br \/> ada 2 mekanisme yang bisa diajukan oleh para penerima layanan publik bila<br \/> terjadi dugaan penyalahgunaan kewenangan atau dugaan tidak dijalankannya<br \/> kewajiban oleh penyelenggara pelayanan pubik. Berdasarkan pasal 1 angka (10) UU<br \/> Pelayanan Publik, mekanisme pertama adalah mediasi yakni upaya untuk<br \/> menyelesaikan sengketa dalam ranah pelayanan publik antara para pihak yang<br \/> berkonflik melalui bantuan yang diberikan oleh Ombudsman atau mediator yang<br \/> dibentuk oleh Ombudsman. Selanjutnya berdasarkan pasal 1 angka (11) UU<br \/> Pelayanan Publik mekanisme penyelesaian sengketa selanjutnya adalah melalui<br \/> ajudikasi. Ajudikasi adalah proses yang dilakukan untuk menangani sengketa<br \/> pelayanan publik antara pihak yang bermasalah dan diputus oleh Ombudsman.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pasal lain dalam UU<br \/> Pelayanan Publik berkenaan dengan penyelesaian sengketa Pelayanan Publik juga<br \/> ditemukan dalam Pasal 40 dan Pasal 46. Pasal 40 UU Pelayanan Publik mengatur:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><em>\u201c(1) Masyarakat berhak mengadukan penyelenggaraan pelayanan publik kepada Penyelenggara, Ombudsman, dan\/atau Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten\/Kota. \u201c<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sedangkan Pasal 46 mengatur:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><em>\u201c(1) Ombudsman wajib menerima dan berwenang memproses pengaduan dari masyarakat mengenai penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan Undang-Undang ini.<\/em><\/p>\n<p><em>(2) Ombudsman wajib menyelesaikan pengaduan masyarakat apabila pengadu menghendaki penyelesaian pengaduan tidak dilakukan oleh Penyelenggara. <\/em><\/p>\n<p><em>(3) Ombudsman wajib membentuk perwakilan di daerah yang bersifat hierarkis untuk mendukung tugas dan fungsi Ombudsman dalam kegiatan pelayanan publik. <\/em><\/p>\n<p><em>(4) Pembentukan perwakilan Ombudsman di daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan paling lambat 3 (tiga) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. <\/em><\/p>\n<p><em>(5) Ombudsman wajib melakukan mediasi dan konsiliasi dalam menyelesaikan pengaduan atas permintaan para pihak. <\/em><\/p>\n<p><em>(6) Penyelesaian pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan oleh perwakilan Ombudsman di daerah. <\/em><\/p>\n<p><em>(7) Mekanisme dan tata cara penyelesaian pengaduan oleh Ombudsman diatur lebih lanjut dalam peraturan Ombudsman.\u201d<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Selain itu dalam<br \/> Peraturan Ombudsman Republik Indonesia Nomor: 002 Tahun 2009 Tentang Tata Cara<br \/> Pemeriksaan Dan Penyelesaian Laporan (Peraturan Ombudsman Nomor 002\/2009),<br \/> diatur beberapa hal mengenai penyelesaian sengketa pelayanan publik yang<br \/> diselesaikan melalui ajudikasi di Ombudsman, yaitu:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pasal 1 angka 5:<br \/> Laporan adalah pengaduan atau penyampaian fakta dan ataupun informasi untuk<br \/> ditindaklanjuti oleh Ombudsman yang disampaikan secara tertulis atau lisan oleh<br \/> setiap orang yang telah menjadi korban maladministrasi.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pasal 1 angka 6:<br \/> Pelapor adalah Warga Negara Indonesia atau penduduk yang menyampaikan laporan<br \/> kepada Ombudsman.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pasal 1 angka 7:<br \/> Terlapor adalah penyelenggara negara, pemerintah atau badan swasta serta<br \/> perseorangan yang melakukan maladministrasi yang dilaporkan kepada Ombudsman.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pasal 1 angka 11:<br \/> Ajudikasi oleh Ombudsman adalah proses penyelesaian sengketa pelayanan publik<br \/> antar para pihak yang diputus oleh Ombudsman<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pasal 46 ayat (4):<br \/> Tujuan ajudikasi adalah untuk mencapai atau menghasilkan penyelesaian yang<br \/> disepakati dan dapat diterima Pelapor dan Terlapor yang diputus Ombudsman.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan<br \/> ketentuan-ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa sengketa Pelayanan Publik<br \/> yang dimaksud dalam UU Pelayanan Publik adalah sengketa yang timbul akibat<br \/> adanya pengaduan masyarakat atas pelayanan publik yang diterimanya dari<br \/> Penyelenggara Pelayanan Publik. Menurut Pasal 1 angka 2 UU Pelayanan Publik, Penyelenggaran<br \/> Pelayanan Publik adalah:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><em>\u201cPenyelenggara pelayanan publik yang selanjutnya disebut Penyelenggara adalah setiap institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik.\u201d<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Proses Ajudikasi<\/strong><\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Ajudikasi adalah<br \/> salah satu cara dalam usaha penyelesaian sengketa antara\u00a0 para pihak melalui peran pihak ketiga, yang<br \/> mana pihak ketiga dipilih langsung oleh para pihak yang bersengketa untuk<br \/> menetapkan keputusan dari perkara yang dipersengketakan. Menurut Andreas<br \/> Soeroso, secara sosiologi ajudikasi memiliki makna tindakan yang dilakukan guna<br \/> mencapai suatu kesepakatan melalui jalur peradilan jika antara kedua belah<br \/> pihak yang bersengketa berselisih pendapat dan saling merasa paling benar.<br \/> Kesepakatan yang akan dicapai bisa ditempuh dengan jalan melalui peradilan dan<br \/> diputus dengan penguatan dari bukti-bukti dan alasan tertentu sesuai dengan<br \/> peraturan perundang-undangan yang berlaku.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Ajudikasi adalah<br \/> kata serapan dari Bahasa Inggris Adjudication, yang diartikan sebagai:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><em>\u201cAdjudication is the legal process by which an arbiter or judge reviews evidence and argumentation including legal reasoning forth by opposing parties or litigants to come to a decision which determines rights and obligations between the parties involved. \u201c <\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengertian lain<br \/> mengemukakan:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><em>\u201cThe act of giving a judicial ruling such as a judgment or decree.\u201d<a href=\"#_ftn1\"><strong>[1]<\/strong><\/a><\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan Pasal 6<br \/> Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman (\u201c<strong>UU Ombudsman<\/strong>\u201d), Ombudsman memiliki kewenangan untuk menyelesaikan<br \/> permasalahan ganti rugi akibat sengketa terhadap pelayanan publik dengan<br \/> ajudikasi khusus, jika tidak bisa diselesaikan secara mediasi dan konsiliasi.<br \/> Penyelesaian ini hanya menyangkut atas permasalahan ganti rugi dari sengketa<br \/> yang sudah diputuskan oleh Ombudsman.\u00a0<br \/> Tata cara permohonan sidang dengan ajudikasi khusus yaitu diajukan oleh<br \/> pelapor atau pihak yang mewakili dengan disampaikan secara tertulis. Permohonan<br \/> tersebut ditujukan kepada Ketua Ombudsman atau kepada Kepala Perwakilan Ombudsman<br \/> untuk yang ada di Daerah.\u00a0<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sebagaimana yang<br \/> sudah disinggung sedikit sebelumnya, berdasarkan UU Pelayanan Publik, proses<br \/> penyelesaian sengketa Pelayanan Publik dilakukan melalui beberapa mekanisme:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">1. Proses<br \/> penyelesaian sengketa pelayanan publik yang dilakukan di dalam dan oleh<br \/> penyelenggara pelayanan publik itu sendiri. Dilaksanakan sesuai peraturan<br \/> perundangan yang berlaku, dengan mengambil bentuk <em>Administratief Beroep<\/em> (upaya administratif), secara berjenjang<br \/> berupa keberatan administratif dan banding administratif.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">2. Proses<br \/> penyelesaian sengketa pelayanan publik yang dilakukan oleh Ombudsman:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">a. Mediasi<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">b. Ajudikasi<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">3. Proses<br \/> penyelesaian sengketa pelayanan publik yang dilakukan oleh Pengadilan Tata<br \/> Usaha Negara (PTUN) bila pelayanan yang diberikan menimbulkan kerugian di<br \/> bidang tata usaha negara.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan paparan<br \/> tersebut di atas, berarti ajudikasi oleh Ombudsman dalam penyelesaian sengketa<br \/> pelayanan publik hanyalah salah satu kemungkinan dari beberapa kemungkinan<br \/> penyelesaian sengketa pelayanan publik.<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam proses<br \/> penyelesaian sengketa pelayanan publik yang dilakukan Ombudsman, Ombudsman akan<br \/> berlaku sebagai hakim dan sebagai penyelesaian terhadap sengketa yang ada akan<br \/> dikeluarkan putusan yang dalam hal ini dianggap sebagai putusan hakim yang<br \/> berlaku bagi kedua belah pihak yang bersengketa. Hal ini sebenarnya tidak<br \/> diatur sebagai salah satu kewenangan Ombudsman sebagaimana diatur dalam Pasal 7<br \/> dan Pasal 8 UU Ombudsman mengenai tugas dan wewenang Ombudsman. Namun, ketentuan<br \/> pasal 7 huruf h UU Ombudsman yang mengatur bahwa salah satu tugas Ombudsman<br \/> adalah \u201cmelakukan tugas lain yang diberikan oleh undang-undang\u201d merupakan pintu<br \/> masuk bagi UUPelayanan Publik untuk memberikan wewenang kepada Ombudsman untuk<br \/> menjadi tempat penyelesaian sengketa pelayanan publik.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Hal ini kemudian<br \/> diatur lebih lanjut dalam Peraturan Ombudsman Republik Indonesia Nomor 002<br \/> Tahun 2009 Tentang Tata Cara Pemeriksaan dan Penyelesaian Laporan, khusus<br \/> mengenai ajudikasi diatur dalam pasal 46 ayat (4) dan Pasal 68 ayat (2). Tetapi<br \/> kedua pasal tersebut tidak merinci secara jelas bagaimana prosedur pelaksanaan<br \/> penyelesaian sengketa pelayanan publik secara ajudikasi. Ketentuan mengenai<br \/> mediasi dan konsiliasi justru diatur secara terperinci dalam Peraturan<br \/> Ombudsman. Padahal untuk tata cara Ajudikasi Ombudsman dalam penyelesaian<br \/> sengketa pelayanan publik harus diatur dalam Peraturan Ombusman, sebagaimana<br \/> ketentuan pasal 50 ayat (7) UU Pelayanan Publik yang berbunyi:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><em>\u201cDalam melaksanakan ajudikasi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (5), mekanisme dan tata caranya diatur lebih lanjut oleh peraturan Ombudsman\u201d<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Secara umum<br \/> ajudikasi yang akan diselenggarakan oleh Ombudsman berpotensi menimbulkan<br \/> beberapa masalah, terutama bila melihat adanya putusan, serupa putusan<br \/> pengadilan, sebagai hasil akhir dalam penyelesaian sengketa pelayanan publik<br \/> ini. Persoalannya adalah bagaimanakah kekuatan putusan ini, sebab Ombudsman<br \/> bukanlah lembaga pengadilan atau forum pengadilan seperti halnya arbitrase.<br \/> Ketentuan Pasal 1 angka 7 UU Ombudsman mengatur bahwa hasil investigasi<br \/> Ombudsman hanyalah \u2018Rekomendasi\u2019.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Hal ini menunjukkan<br \/> bahwa produk Ombudsman dalam penyelesaian permasalahan yang dilaporkan kepada<br \/> Ombudsman (termasuk sengketa pelayanan publik) tidaklah berbentuk \u201cputusan\u201d,<br \/> melainkan rekomendasi. Memang rekomendasi Ombudsman \u201cbersifat wajib\u201d, sebagaimana<br \/> ketentuan pasal 38 ayat (1) UU Ombudsman yang berbunyi:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><em>\u201cTerlapor dan atasan Terlapor wajib melaksanakan Rekomendasi Ombudsman.\u201c<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Serta ketentuan<br \/> pasal Pasal 39 UU Ombudsman yang berbunyi:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><em>\u201cTerlapor dan atasan Terlapor yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1), ayat (2), atau ayat (4) dikenai sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.\u201d<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Adanya ketetentuan<br \/> penjatuhan sanksi administrasi bagi pihak yang mengabaikan rekomendasi<br \/> Ombudsman, menunjukan bahwa rekomendasi Ombudsman sekalipun bukan merupakan<br \/> suatu Keputusan Tata Usaha Negara, karena Ombudsman bukanlah bagian dan lembaga<br \/> eksekutif (Tata Usaha Negara), sebagaimana ketentuan Pasal 2 UU Ombudsman, yang<br \/> berbunyi:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><em>\u00a0\u201cOmbudsman merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri dan tidak memiliki hubungan organik dengan lembaga negara dan instansi pemerintahan lainnya, serta dalam menjalankan tugas dan wewenangnya bebas dari campur tangan kekuasaan lainnya.\u201d<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Tetapi dalam<br \/> pelaksanaan hasil rekomendasinya Ombudsman tergantung kepada kehendak dan<br \/> kemauan baik dari Tata Usaha Negara yang menerima rekomendasi tersebut. Lebih<br \/> lanjut dapat disimpulkan bahwa rekomendasi Ombudsman sekalipun \u201cbersifat wajib\u201d<br \/> tetapi belum tentu memiliki sifat \u201cfinal dan mengikat\u201d (<em>final and binding<\/em>) seperti halnya putusan dari proses ajudikasi<br \/> baik di pengadilan maupun di arbitrasi. Apalagi bila kita kaitkan dengan adanya<br \/> ketentuan penjatuhan sanksi administrasi bagi pihak yang mengabaikan<br \/> rekomendasi Ombudsman, baik terlapor sendiri atau atasan dari terlapor. Artinya<br \/> terhadap rekomendasi Ombudsman dapat diperlakukan upaya administrasi lebih<br \/> lanjut.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Rekomendasi<br \/> Ombudsman yang diikuti dengan sanksi administratif jelas berbeda dengan praktik<br \/> di beberapa Negara lain seperti, Swedia, Ethiopia dan New Zealand. Di negara<br \/> tersebut rekomendasi Ombudsman hanya mengikat secara moral\u00a0<em>(morally<br \/> binding)<\/em>. Hal ini dikarenakan tingginya kesadaran hukum badan publik di<br \/> Negara tersebut. Berbeda dengan Indonesia dimana rekomendasi Ombudsman\u00a0<br \/> yang sebelumnya hanya mengikat secara moral telah diperkuat agar mengikat<br \/> secara hukum<em>\u00a0(legally binding).<\/em>\u00a0<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Rekomendasi<br \/> Ombudsman dan putusan Pengadilan merupakan dua hal yang berbeda, rekomendasi<br \/> Ombudsman dikeluarkan oleh Ombudsman melalui proses pelaporan hingga dikeluarkan<br \/> rekomendasi yang dilakukan sendiri oleh Ombudsman, sedangkan putusan Pengadilan<br \/> adalah putusan yang dikeluarkan oleh hakim yang melewati proses pemeriksaan<br \/> secara\u00a0<em>pro justitia<\/em>.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Proses penyelesaian<br \/> suatu perkara antara Ombudsman dan Pengadilan sebenarnya hampir sama. Di<br \/> Pengadilan diawali dengan gugatan\/permohonan, kemudian jawab-menjawab, adanya<br \/> proses pembuktian, kesimpulan dan putusan. Sementara rekomendasi Ombudsman<br \/> diawali dengan laporan masyarakat\/pemeriksaan inisiatif, klarifikasi dan<br \/> tanggapan (sama halnya dengan jawab-menjawab dalam tahapan<br \/> litigasi),\u00a0pemeriksaan substantif,\u00a0pemeriksaan<br \/> bukti-bukti,\u00a0diputuskan dalam pleno anggota Ombudsman mengenai anjuran,<br \/> saran, perintah\/larangan, ditambah penjatuhan sanksi administratif\/ganti rugi<br \/> pelapor yang dirugikan.\u00a0Keduanya sama-sama diselenggarakan dengan asas<br \/> keadilan, bedanya Pengadilan menggunakan asas sederhana, cepat, biaya ringan.<br \/> Sedangkan Ombudsman penyelesaian yang sederhana, cepat dan bebas dari biaya.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam hal isi<br \/> putusan atau rekomendasi juga ada kemiripan yaitu asas putusan harus memuat<br \/> dasar yang jelas dan rinci dalam pertimbangannya. Sifat putusan kedua lembaga<br \/> bersifat mengikat para pihak dan pihak terkait. Dalam kedudukannya putusan<br \/> Pengadilan memiliki tiga macam kekuatan, yaitu:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1. Kekuatan\u00a0Mengikat<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Mengenai putusan<br \/> Pengadilan, jika empat belas hari setelah dibacakan dan tidak dlakukan upaya<br \/> hukum oleh para pihak maka putusan pengadilan tersebut memiliki kekuatan hukum<br \/> yang tetap yang harus dijalankan oleh para pihak dan memuat sanksi. Sedangkan<br \/> rekomendasi Ombudsman memiliki kekuatan mengikat sebagai anjuran, saran, atau<br \/> teguran.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2. Memiliki Kekuatan Pembuktian<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Putusan dalam<br \/> bentuk tertulis yang merupakan akta otentik yang tidak lain bertujuan untuk<br \/> dapat digunakan sebagai alat bukti bagi para pihak. Meskipun putusan Pengadilan<br \/> tidak mempunyai kekuatan mengikat terhadap pihak ketiga, namun mempunyai<br \/> kekuatan pembuktian terhadap pihak ketiga.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">3. Kekuatan\u00a0<em>Executorial<\/em><\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Kekuatan<br \/> eksekutorial adalah putusan dimaksudkan untuk menyelesaikan suatu persoalan<br \/> atau sengketa atau menetapkan hak atau hukumnya saja, juga realisasi atau<br \/> pelaksanaannya (seksekusinya) secara paksa. Kekuatan eksekutorial para hakim<br \/> tidak dapat dilumpuhkan. Berbeda halnya dengan rekomendasi Ombudsman tidak<br \/> memiliki kekuatan eksekutorial yang kuat, sanksi yang diberikan apabila tidak<br \/> menjalankan rekomendasi Ombudsman hanya sanksi moral yaitu dipublikasikannya<br \/> terlapor atau atasan terlapor dan yang paling tinggi kekuatan eksekutorialnya<br \/> adalah berupa sanksi administrasi yang diatur oleh peraturan<br \/> perundang-undangan.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Kekuataan mengikat<br \/> rekomendasi Ombudsman tidaklah sama dengan putusan Pengadilan. Walaupun tata cara<br \/> mulai dari adanya laporan hingga dikeluarkan rekomendasi Ombudsman tersebut<br \/> hampir sama dengan putusan pengadilan, tetapi rekomendasi Ombudsman tidak dapat<br \/> memuat sanksi tetapi hanya memuat saran (<em>suggestion<\/em>). Sedangkan putusan<br \/> Pengadilan dapat memuat sanksi dan dapat dieksekusi. Ombudsman tidak memiliki<br \/> kewenangan menuntut maupun menjatuhkan sanksi kepada instansi yang dilaporkan,<br \/> namun memberikan rekomendasi kepada instansi terlapor untuk melakukan koreksi<br \/> terhadap diri sendiri (<em>self correction<\/em>).<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dengan demikian,<br \/> secara eksplisit memang pada dasarnya dalam undang-undang dinyatakan bahwa<br \/> kewenangan Ombudsman bukanlah sebagai lembaga yang dapat memberikan sanksi<br \/> secara mutlak (<em>execution<\/em>), tetapi hanya sebatas memberikan saran agar<br \/> penyelenggara negara yang mendapatkan rekomendasi tersebut memperbaiki<br \/> kinerjanya. Ombudsman tidak dapat memberikan suatu bentuk sanksi kepada penyelenggara<br \/> negara yang telah mendapatkan rekomendasinya namun hanya menyampaikan kepada<br \/> atasan atau Presiden serta DPR untuk menindaklanjuti apabila terjadi dalam hal<br \/> rekomendasi Ombudsman tidak dilaksanakan.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Upaya Hukum<\/strong><\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan<br \/> pembahasan sebelumnya, dinyatakan bahwa, kekuatan mengikat putusan ajudikasi<br \/> Ombudsman dalam penyelesaian sengketa pelayanan publik memiliki kekuatan hukum<br \/> hanya sebagai rekomendasi, maka sudah tentu terhadap putusan tersebut dapat<br \/> dilakukan upaya hukum lebih lanjut. Upaya hukum itu dapat dilaksanakan dengan<br \/> beberapa kemungkinan, yaitu:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Mekanisme dalam UU Pelayanan Publik. Oleh karena proses penyelesaian sengketa pelayanan publik adalah bagian dari pengaduan dan pelaporan dari masyarakat terhadap pelayanan publik yang dilakukan oleh penyelenggara dan\/atau pelaksana pelayanan publik, upaya hukum yang dapat dilakukan adalah bila hasil putusan ajudikasi Ombudsman tersebut diabaikan\/tidak dilaksanakan oleh terlapor, maka terlapor dapat dilaporkan kepada instansi atasannya, dan terhadap yang bersangkutan dapat dikenai sanksi administrasi berupa teguran, penuruan gaji, penurunan jabatan, sampai pembebasan dari jabatan<a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a>, dengan maksud agar pihak terlapor mau melaksanakan putusan ajudikasi Ombudsman. Upaya hukum ini serupa dengan bentuk <em>administrateif beroep<\/em>. Bila ternyata pada pihak yang mengabaikan putusan ajudikasi itu ditemukan adanya perbuatan melawan hukum atau tindak pidana, maka pihak tersebut dapat diajukan ke muka Pengadilan Tata Usaha Negara dan\/atau Pengadilan Umum<a href=\"#_ftn4\">[4]<\/a>.<\/li>\n<li>Mekanisme dalam UU Ombudsman dan Peraturan Ombudsman Republik Indonesia Nomor: 002 Tahun 2009 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Dan Penyelesaian Laporan (\u201c<strong>Peraturan Ombudsman No. 002\/2009<\/strong>\u201d). Dalam hal terlapor mengabaikan rekomendasi Ombudsman, berlaku ketentuan pasal 38 ayat (4) UU Ombudsman, yang berbunyi:<\/li>\n<\/ol>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><em>\u201cDalam hal Terlapor dan atasan Terlapor tidak melaksanakan Rekomendasi atau hanya melaksanakan sebagian Rekomendasi dengan alasan yang tidak dapat diterima oleh Ombudsman, Ombudsman dapat mempublikasikan atasan Terlapor yang tidak melaksanakan Rekomendasi dan menyampaikan laporan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.\u201d<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Ketentuan ini<br \/> diatur lebih lanjut dalam Pasal 44 Peraturan Ombudsman No. 002\/2009 yakni:<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Ombudsman memantau pelaksanaan rekomendasi<\/li>\n<li>Pemantauan pelaksanaan rekomendasi dilaksanakan sebelum tengat waktu 60 hari untuk melaksanakan rekomendasi berakhir<\/li>\n<li>Ombudsman melakukan pendekatan persuasif agar Terlapor melaksanakan rekomendasi Ombudsman<\/li>\n<li>Apabila dalam waktu 60 (enam puluh) hari rekomendasi tidak ditindaklanjuti, Ombudsman menyampaikan rekomendasi kepada atasan Terlapor mengenai sikap terlapor yang mengabaikan rekomendasi Ombudsman<\/li>\n<li>Apabila dalam waktu 90 (sembilan puluh) hari atasan Terlapor tidak menindaklanjuti rekomendasi, Ombudsman dapat menyampaikan laporan kepada DPR\/DPRD dan Presiden\/Kepala Daerah<\/li>\n<li>Ombudsman dapat melakukan publikasi atas sikap Terlapor dan Atasannya yang tidak menindaklanjuti rekomendasi Ombudsman<\/li>\n<\/ol>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Terhadap pihak yang<br \/> mengabaikan rekomendasi ini, dapat dikenai sanksi administrasi sebagaimana diatur<br \/> dalam Pasal 39 UU Ombudsman. Berdasarkan ketentuan tersebut di atas maka dapat<br \/> disimpulkan upaya hukum terhadap rekomendasi Ombudsman adalah mekanisme upaya<br \/> administratif yang berujung dengan penjatuhan sanksi administrasi, dan<br \/> berdasarkan pembahasan di atas, hal tersebut menguatkan asumsi bahwa<br \/> penyelesaian sengketa pelayanan publik melalui mekanisme ajudikasi di Ombudsman<br \/> masih harus dikaji lebih lanjut.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga bermanfaat.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>FREDRIK J PINAKUNARY LAW OFFICES<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<hr class=\"wp-block-separator\" \/>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> <a href=\"http:\/\/dictionary.law.com\/Default.aspx?selected=2328\">http:\/\/dictionary.law.com\/Default.aspx?selected=2328<\/a><br \/> diakses pada 8 Juli 2020<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> Pasal 36 ayat (2) dan Pasal 40 ayat (1) UU Pelayanan Publik<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a> Pasal 54 UU Pelayanan Publik<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a> Pasal 52, Pasal 53, Pasal 55 s.d. Pasal 58 UU Pelayanan Publik<\/p>\n<p><\/p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Proses Penerimaan Peserta Didik Baru atau\u00a0PPDB DKI Jakarta 2020 telah mencapai titik akhir pada 8 Juli 2020. Sebelumnya, PPDB DKI Jakarta tahap akhir masih dibuka pada 7-8 Juli 2020 untuk calon siswa yang belum mendaftarkan diri sebagai peserta karena kendala tertentu. Namun seleksi jalur afirmasi, zonasi, dan prestasi yang menjadi jalur umum peserta masuk sekolah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29981,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Proses Penerimaan\r\nPeserta Didik Baru atau\u00a0<a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/tag\/ppdb-dki-jakarta-2020\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">PPDB DKI\r\nJakarta 2020<\/a> telah mencapai titik akhir pada 8 Juli 2020. Sebelumnya,\r\nPPDB DKI Jakarta tahap akhir masih dibuka pada 7-8 Juli 2020 untuk calon siswa\r\nyang belum mendaftarkan diri sebagai peserta karena kendala tertentu. Namun\r\nseleksi jalur afirmasi, zonasi, dan prestasi yang menjadi jalur umum peserta\r\nmasuk sekolah negeri di DKI Jakarta sudah berakhir terlebih dahulu. Selama\r\nprosesnya PPDB DKI Jakarta 2020 tak berjalan mulus. Banyak masalah yang muncul,\r\nsalah satunya soal\u00a0kriteria usia pada jalur zonasi yang banyak diprotes\r\noleh orang tua murid.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Permasalahan\r\npenerimaan siswa melalui sistim zonasi berdasarkan usia tertua menjadi \u00a0topik perbincangan hangat di DKI Jakarta, hal\r\nini disebabkan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan DKI yang dinilai oleh David\r\nbertentangan dengan Pasal 25 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor\r\n44 Tahun 2019 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada Taman Kanak-Kanak,\r\nSekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah\r\nMenengah Kejuruan (\u201c<strong>Permendikbud 44\/2019<\/strong>\u201d).\r\nTerkait polemik ini, pengacara publik David Tobing telah melaporkan Kepala\r\nDinas Pendidikan DKI ke Ombudsman.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dalam Pasal 25\r\nPermendikbud 44\/2019 yang mengatur penerimaan melalui zonasi, disebutkan:<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:list {\"ordered\":true} -->\r\n<ol><li>Seleksi calon peserta didik baru kelas 7 (tujuh) SMP dan kelas 10 (sepuluh) SMA dilakukan dengan memprioritaskan jarak tempat tinggal terdekat ke Sekolah dalam wilayah zonasi yang ditetapkan.<\/li><li>Jika jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka seleksi untuk pemenuhan kuota\/daya tampung terakhir menggunakan usia peserta didik yang lebih tua berdasarkan surat keterangan lahir atau akta kelahiran.<\/li><\/ol>\r\n<!-- \/wp:list -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dinas Pendidikan\r\nDKI menjadikan usia menjadi faktor utama dalam penentuan peserta didik yang\r\nditerima apabila peserta yang mendaftar melebihi kuota. Hal ini termuat dalam\r\nSurat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan DKI No. 501\/2020 tentang Petunjuk\r\nTeknis Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2020\/2021, yang menyatakan\r\njika melebihi daya tampung maka kriteria seleksi adalah usia tertua ke usia\r\ntermuda, urutan pilihan sekolah dan waktu mendaftar.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Menurt David Tobing\r\ndan beberapa orang tua murid yang merasa dirugikan, seharusnya peserta yang\r\nmendaftar baik masih dalam kuota maupun melebihi kuota tetap mengacu ke\r\nPermendikbud yaitu ditentukan berdasarkan jarak tempat tinggal calon peserta\r\ndidik dengan sekolah.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Lalu, bagaimana\r\nproses penyelesaian sengketa pelayanan publik oleh Ombudsman sebagaimana yang\r\ndilakukan oleh pengacara David Tobing dengan melaporkan Kepala Dinas Pendidikan\r\nDKI ke Ombudsman? Simak penjelasannya dibawah ini:<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pasal 1\r\nUndang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (\u201c<strong>UU Pelayanan Publik<\/strong>\u201d) menjelaskan bahwa\r\nada 2 mekanisme yang bisa diajukan oleh para penerima layanan publik bila\r\nterjadi dugaan penyalahgunaan kewenangan atau dugaan tidak dijalankannya\r\nkewajiban oleh penyelenggara pelayanan pubik. Berdasarkan pasal 1 angka (10) UU\r\nPelayanan Publik, mekanisme pertama adalah mediasi yakni upaya untuk\r\nmenyelesaikan sengketa dalam ranah pelayanan publik antara para pihak yang\r\nberkonflik melalui bantuan yang diberikan oleh Ombudsman atau mediator yang\r\ndibentuk oleh Ombudsman. Selanjutnya berdasarkan pasal 1 angka (11) UU\r\nPelayanan Publik mekanisme penyelesaian sengketa selanjutnya adalah melalui\r\najudikasi. Ajudikasi adalah proses yang dilakukan untuk menangani sengketa\r\npelayanan publik antara pihak yang bermasalah dan diputus oleh Ombudsman.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pasal lain dalam UU\r\nPelayanan Publik berkenaan dengan penyelesaian sengketa Pelayanan Publik juga\r\nditemukan dalam Pasal 40 dan Pasal 46. Pasal 40 UU Pelayanan Publik mengatur: <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:quote -->\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><em>\u201c(1) Masyarakat berhak mengadukan penyelenggaraan pelayanan publik kepada Penyelenggara, Ombudsman, dan\/atau Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten\/Kota. \u201c<\/em><\/p><\/blockquote>\r\n<!-- \/wp:quote -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p>Sedangkan Pasal 46 mengatur:\r\n<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:quote -->\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><em>\u201c(1) Ombudsman wajib menerima dan berwenang memproses pengaduan dari masyarakat mengenai penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan Undang-Undang ini.<\/em><\/p><p><em>(2) Ombudsman wajib menyelesaikan pengaduan masyarakat apabila pengadu menghendaki penyelesaian pengaduan tidak dilakukan oleh Penyelenggara. <\/em><\/p><p><em>(3) Ombudsman wajib membentuk perwakilan di daerah yang bersifat hierarkis untuk mendukung tugas dan fungsi Ombudsman dalam kegiatan pelayanan publik. <\/em><\/p><p><em>(4) Pembentukan perwakilan Ombudsman di daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan paling lambat 3 (tiga) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. <\/em><\/p><p><em>(5) Ombudsman wajib melakukan mediasi dan konsiliasi dalam menyelesaikan pengaduan atas permintaan para pihak. <\/em><\/p><p><em>(6) Penyelesaian pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan oleh perwakilan Ombudsman di daerah. <\/em><\/p><p><em>(7) Mekanisme dan tata cara penyelesaian pengaduan oleh Ombudsman diatur lebih lanjut dalam peraturan Ombudsman.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\r\n<!-- \/wp:quote -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Selain itu dalam\r\nPeraturan Ombudsman Republik Indonesia Nomor: 002 Tahun 2009 Tentang Tata Cara\r\nPemeriksaan Dan Penyelesaian Laporan (Peraturan Ombudsman Nomor 002\/2009),\r\ndiatur beberapa hal mengenai penyelesaian sengketa pelayanan publik yang\r\ndiselesaikan melalui ajudikasi di Ombudsman, yaitu: <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pasal 1 angka 5:\r\nLaporan adalah pengaduan atau penyampaian fakta dan ataupun informasi untuk\r\nditindaklanjuti oleh Ombudsman yang disampaikan secara tertulis atau lisan oleh\r\nsetiap orang yang telah menjadi korban maladministrasi. <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pasal 1 angka 6:\r\nPelapor adalah Warga Negara Indonesia atau penduduk yang menyampaikan laporan\r\nkepada Ombudsman. <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pasal 1 angka 7:\r\nTerlapor adalah penyelenggara negara, pemerintah atau badan swasta serta\r\nperseorangan yang melakukan maladministrasi yang dilaporkan kepada Ombudsman.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pasal 1 angka 11:\r\nAjudikasi oleh Ombudsman adalah proses penyelesaian sengketa pelayanan publik\r\nantar para pihak yang diputus oleh Ombudsman <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pasal 46 ayat (4):\r\nTujuan ajudikasi adalah untuk mencapai atau menghasilkan penyelesaian yang\r\ndisepakati dan dapat diterima Pelapor dan Terlapor yang diputus Ombudsman.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Berdasarkan\r\nketentuan-ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa sengketa Pelayanan Publik\r\nyang dimaksud dalam UU Pelayanan Publik adalah sengketa yang timbul akibat\r\nadanya pengaduan masyarakat atas pelayanan publik yang diterimanya dari\r\nPenyelenggara Pelayanan Publik. Menurut Pasal 1 angka 2 UU Pelayanan Publik, Penyelenggaran\r\nPelayanan Publik adalah: <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:quote -->\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><em>\u201cPenyelenggara pelayanan publik yang selanjutnya disebut Penyelenggara adalah setiap institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\r\n<!-- \/wp:quote -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p><strong>Proses Ajudikasi<\/strong><\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Ajudikasi adalah\r\nsalah satu cara dalam usaha penyelesaian sengketa antara\u00a0 para pihak melalui peran pihak ketiga, yang\r\nmana pihak ketiga dipilih langsung oleh para pihak yang bersengketa untuk\r\nmenetapkan keputusan dari perkara yang dipersengketakan. Menurut Andreas\r\nSoeroso, secara sosiologi ajudikasi memiliki makna tindakan yang dilakukan guna\r\nmencapai suatu kesepakatan melalui jalur peradilan jika antara kedua belah\r\npihak yang bersengketa berselisih pendapat dan saling merasa paling benar.\r\nKesepakatan yang akan dicapai bisa ditempuh dengan jalan melalui peradilan dan\r\ndiputus dengan penguatan dari bukti-bukti dan alasan tertentu sesuai dengan\r\nperaturan perundang-undangan yang berlaku.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Ajudikasi adalah\r\nkata serapan dari Bahasa Inggris Adjudication, yang diartikan sebagai: <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:quote -->\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><em>\u201cAdjudication is the legal process by which an arbiter or judge reviews evidence and argumentation including legal reasoning forth by opposing parties or litigants to come to a decision which determines rights and obligations between the parties involved. \u201c <\/em><\/p><\/blockquote>\r\n<!-- \/wp:quote -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p>Pengertian lain\r\nmengemukakan: <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:quote -->\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><em>\u201cThe act of giving a judicial ruling such as a judgment or decree.\u201d<a href=\"#_ftn1\"><strong>[1]<\/strong><\/a><\/em><\/p><\/blockquote>\r\n<!-- \/wp:quote -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Berdasarkan Pasal 6\r\nUndang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman (\u201c<strong>UU Ombudsman<\/strong>\u201d), Ombudsman memiliki kewenangan untuk menyelesaikan\r\npermasalahan ganti rugi akibat sengketa terhadap pelayanan publik dengan\r\najudikasi khusus, jika tidak bisa diselesaikan secara mediasi dan konsiliasi.\r\nPenyelesaian ini hanya menyangkut atas permasalahan ganti rugi dari sengketa\r\nyang sudah diputuskan oleh Ombudsman.\u00a0\r\nTata cara permohonan sidang dengan ajudikasi khusus yaitu diajukan oleh\r\npelapor atau pihak yang mewakili dengan disampaikan secara tertulis. Permohonan\r\ntersebut ditujukan kepada Ketua Ombudsman atau kepada Kepala Perwakilan Ombudsman\r\nuntuk yang ada di Daerah.\u00a0 <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Sebagaimana yang\r\nsudah disinggung sedikit sebelumnya, berdasarkan UU Pelayanan Publik, proses\r\npenyelesaian sengketa Pelayanan Publik dilakukan melalui beberapa mekanisme: <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">1. Proses\r\npenyelesaian sengketa pelayanan publik yang dilakukan di dalam dan oleh\r\npenyelenggara pelayanan publik itu sendiri. Dilaksanakan sesuai peraturan\r\nperundangan yang berlaku, dengan mengambil bentuk <em>Administratief Beroep<\/em> (upaya administratif), secara berjenjang\r\nberupa keberatan administratif dan banding administratif. <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">2. Proses\r\npenyelesaian sengketa pelayanan publik yang dilakukan oleh Ombudsman: <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p>a. Mediasi <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p>b. Ajudikasi <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">3. Proses\r\npenyelesaian sengketa pelayanan publik yang dilakukan oleh Pengadilan Tata\r\nUsaha Negara (PTUN) bila pelayanan yang diberikan menimbulkan kerugian di\r\nbidang tata usaha negara. <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Berdasarkan paparan\r\ntersebut di atas, berarti ajudikasi oleh Ombudsman dalam penyelesaian sengketa\r\npelayanan publik hanyalah salah satu kemungkinan dari beberapa kemungkinan\r\npenyelesaian sengketa pelayanan publik.<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dalam proses\r\npenyelesaian sengketa pelayanan publik yang dilakukan Ombudsman, Ombudsman akan\r\nberlaku sebagai hakim dan sebagai penyelesaian terhadap sengketa yang ada akan\r\ndikeluarkan putusan yang dalam hal ini dianggap sebagai putusan hakim yang\r\nberlaku bagi kedua belah pihak yang bersengketa. Hal ini sebenarnya tidak\r\ndiatur sebagai salah satu kewenangan Ombudsman sebagaimana diatur dalam Pasal 7\r\ndan Pasal 8 UU Ombudsman mengenai tugas dan wewenang Ombudsman. Namun, ketentuan\r\npasal 7 huruf h UU Ombudsman yang mengatur bahwa salah satu tugas Ombudsman\r\nadalah \u201cmelakukan tugas lain yang diberikan oleh undang-undang\u201d merupakan pintu\r\nmasuk bagi UUPelayanan Publik untuk memberikan wewenang kepada Ombudsman untuk\r\nmenjadi tempat penyelesaian sengketa pelayanan publik. <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Hal ini kemudian\r\ndiatur lebih lanjut dalam Peraturan Ombudsman Republik Indonesia Nomor 002\r\nTahun 2009 Tentang Tata Cara Pemeriksaan dan Penyelesaian Laporan, khusus\r\nmengenai ajudikasi diatur dalam pasal 46 ayat (4) dan Pasal 68 ayat (2). Tetapi\r\nkedua pasal tersebut tidak merinci secara jelas bagaimana prosedur pelaksanaan\r\npenyelesaian sengketa pelayanan publik secara ajudikasi. Ketentuan mengenai\r\nmediasi dan konsiliasi justru diatur secara terperinci dalam Peraturan\r\nOmbudsman. Padahal untuk tata cara Ajudikasi Ombudsman dalam penyelesaian\r\nsengketa pelayanan publik harus diatur dalam Peraturan Ombusman, sebagaimana\r\nketentuan pasal 50 ayat (7) UU Pelayanan Publik yang berbunyi:<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:quote -->\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><em>\u201cDalam melaksanakan ajudikasi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (5), mekanisme dan tata caranya diatur lebih lanjut oleh peraturan Ombudsman\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\r\n<!-- \/wp:quote -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Secara umum\r\najudikasi yang akan diselenggarakan oleh Ombudsman berpotensi menimbulkan\r\nbeberapa masalah, terutama bila melihat adanya putusan, serupa putusan\r\npengadilan, sebagai hasil akhir dalam penyelesaian sengketa pelayanan publik\r\nini. Persoalannya adalah bagaimanakah kekuatan putusan ini, sebab Ombudsman\r\nbukanlah lembaga pengadilan atau forum pengadilan seperti halnya arbitrase.\r\nKetentuan Pasal 1 angka 7 UU Ombudsman mengatur bahwa hasil investigasi\r\nOmbudsman hanyalah \u2018Rekomendasi\u2019.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Hal ini menunjukkan\r\nbahwa produk Ombudsman dalam penyelesaian permasalahan yang dilaporkan kepada\r\nOmbudsman (termasuk sengketa pelayanan publik) tidaklah berbentuk \u201cputusan\u201d,\r\nmelainkan rekomendasi. Memang rekomendasi Ombudsman \u201cbersifat wajib\u201d, sebagaimana\r\nketentuan pasal 38 ayat (1) UU Ombudsman yang berbunyi: <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:quote -->\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><em>\u201cTerlapor dan atasan Terlapor wajib melaksanakan Rekomendasi Ombudsman.\u201c<\/em><\/p><\/blockquote>\r\n<!-- \/wp:quote -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p>Serta ketentuan\r\npasal Pasal 39 UU Ombudsman yang berbunyi: <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:quote -->\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><em>\u201cTerlapor dan atasan Terlapor yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1), ayat (2), atau ayat (4) dikenai sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\r\n<!-- \/wp:quote -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Adanya ketetentuan\r\npenjatuhan sanksi administrasi bagi pihak yang mengabaikan rekomendasi\r\nOmbudsman, menunjukan bahwa rekomendasi Ombudsman sekalipun bukan merupakan\r\nsuatu Keputusan Tata Usaha Negara, karena Ombudsman bukanlah bagian dan lembaga\r\neksekutif (Tata Usaha Negara), sebagaimana ketentuan Pasal 2 UU Ombudsman, yang\r\nberbunyi:<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:quote -->\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><em>\u00a0\u201cOmbudsman merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri dan tidak memiliki hubungan organik dengan lembaga negara dan instansi pemerintahan lainnya, serta dalam menjalankan tugas dan wewenangnya bebas dari campur tangan kekuasaan lainnya.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\r\n<!-- \/wp:quote -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Tetapi dalam\r\npelaksanaan hasil rekomendasinya Ombudsman tergantung kepada kehendak dan\r\nkemauan baik dari Tata Usaha Negara yang menerima rekomendasi tersebut. Lebih\r\nlanjut dapat disimpulkan bahwa rekomendasi Ombudsman sekalipun \u201cbersifat wajib\u201d\r\ntetapi belum tentu memiliki sifat \u201cfinal dan mengikat\u201d (<em>final and binding<\/em>) seperti halnya putusan dari proses ajudikasi\r\nbaik di pengadilan maupun di arbitrasi. Apalagi bila kita kaitkan dengan adanya\r\nketentuan penjatuhan sanksi administrasi bagi pihak yang mengabaikan\r\nrekomendasi Ombudsman, baik terlapor sendiri atau atasan dari terlapor. Artinya\r\nterhadap rekomendasi Ombudsman dapat diperlakukan upaya administrasi lebih\r\nlanjut.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Rekomendasi\r\nOmbudsman yang diikuti dengan sanksi administratif jelas berbeda dengan praktik\r\ndi beberapa Negara lain seperti, Swedia, Ethiopia dan New Zealand. Di negara\r\ntersebut rekomendasi Ombudsman hanya mengikat secara moral\u00a0<em>(morally\r\nbinding)<\/em>. Hal ini dikarenakan tingginya kesadaran hukum badan publik di\r\nNegara tersebut. Berbeda dengan Indonesia dimana rekomendasi Ombudsman\u00a0\r\nyang sebelumnya hanya mengikat secara moral telah diperkuat agar mengikat\r\nsecara hukum<em>\u00a0(legally binding).<\/em>\u00a0<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Rekomendasi\r\nOmbudsman dan putusan Pengadilan merupakan dua hal yang berbeda, rekomendasi\r\nOmbudsman dikeluarkan oleh Ombudsman melalui proses pelaporan hingga dikeluarkan\r\nrekomendasi yang dilakukan sendiri oleh Ombudsman, sedangkan putusan Pengadilan\r\nadalah putusan yang dikeluarkan oleh hakim yang melewati proses pemeriksaan\r\nsecara\u00a0<em>pro justitia<\/em>.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Proses penyelesaian\r\nsuatu perkara antara Ombudsman dan Pengadilan sebenarnya hampir sama. Di\r\nPengadilan diawali dengan gugatan\/permohonan, kemudian jawab-menjawab, adanya\r\nproses pembuktian, kesimpulan dan putusan. Sementara rekomendasi Ombudsman\r\ndiawali dengan laporan masyarakat\/pemeriksaan inisiatif, klarifikasi dan\r\ntanggapan (sama halnya dengan jawab-menjawab dalam tahapan\r\nlitigasi),\u00a0pemeriksaan substantif,\u00a0pemeriksaan\r\nbukti-bukti,\u00a0diputuskan dalam pleno anggota Ombudsman mengenai anjuran,\r\nsaran, perintah\/larangan, ditambah penjatuhan sanksi administratif\/ganti rugi\r\npelapor yang dirugikan.\u00a0Keduanya sama-sama diselenggarakan dengan asas\r\nkeadilan, bedanya Pengadilan menggunakan asas sederhana, cepat, biaya ringan.\r\nSedangkan Ombudsman penyelesaian yang sederhana, cepat dan bebas dari biaya. <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dalam hal isi\r\nputusan atau rekomendasi juga ada kemiripan yaitu asas putusan harus memuat\r\ndasar yang jelas dan rinci dalam pertimbangannya. Sifat putusan kedua lembaga\r\nbersifat mengikat para pihak dan pihak terkait. Dalam kedudukannya putusan\r\nPengadilan memiliki tiga macam kekuatan, yaitu:<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p>1. Kekuatan\u00a0Mengikat<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Mengenai putusan\r\nPengadilan, jika empat belas hari setelah dibacakan dan tidak dlakukan upaya\r\nhukum oleh para pihak maka putusan pengadilan tersebut memiliki kekuatan hukum\r\nyang tetap yang harus dijalankan oleh para pihak dan memuat sanksi. Sedangkan\r\nrekomendasi Ombudsman memiliki kekuatan mengikat sebagai anjuran, saran, atau\r\nteguran.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p>2. Memiliki Kekuatan Pembuktian<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Putusan dalam\r\nbentuk tertulis yang merupakan akta otentik yang tidak lain bertujuan untuk\r\ndapat digunakan sebagai alat bukti bagi para pihak. Meskipun putusan Pengadilan\r\ntidak mempunyai kekuatan mengikat terhadap pihak ketiga, namun mempunyai\r\nkekuatan pembuktian terhadap pihak ketiga.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p>3. Kekuatan\u00a0<em>Executorial<\/em><\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Kekuatan\r\neksekutorial adalah putusan dimaksudkan untuk menyelesaikan suatu persoalan\r\natau sengketa atau menetapkan hak atau hukumnya saja, juga realisasi atau\r\npelaksanaannya (seksekusinya) secara paksa. Kekuatan eksekutorial para hakim\r\ntidak dapat dilumpuhkan. Berbeda halnya dengan rekomendasi Ombudsman tidak\r\nmemiliki kekuatan eksekutorial yang kuat, sanksi yang diberikan apabila tidak\r\nmenjalankan rekomendasi Ombudsman hanya sanksi moral yaitu dipublikasikannya\r\nterlapor atau atasan terlapor dan yang paling tinggi kekuatan eksekutorialnya\r\nadalah berupa sanksi administrasi yang diatur oleh peraturan\r\nperundang-undangan.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Kekuataan mengikat\r\nrekomendasi Ombudsman tidaklah sama dengan putusan Pengadilan. Walaupun tata cara\r\nmulai dari adanya laporan hingga dikeluarkan rekomendasi Ombudsman tersebut\r\nhampir sama dengan putusan pengadilan, tetapi rekomendasi Ombudsman tidak dapat\r\nmemuat sanksi tetapi hanya memuat saran (<em>suggestion<\/em>). Sedangkan putusan\r\nPengadilan dapat memuat sanksi dan dapat dieksekusi. Ombudsman tidak memiliki\r\nkewenangan menuntut maupun menjatuhkan sanksi kepada instansi yang dilaporkan,\r\nnamun memberikan rekomendasi kepada instansi terlapor untuk melakukan koreksi\r\nterhadap diri sendiri (<em>self correction<\/em>).<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dengan demikian,\r\nsecara eksplisit memang pada dasarnya dalam undang-undang dinyatakan bahwa\r\nkewenangan Ombudsman bukanlah sebagai lembaga yang dapat memberikan sanksi\r\nsecara mutlak (<em>execution<\/em>), tetapi hanya sebatas memberikan saran agar\r\npenyelenggara negara yang mendapatkan rekomendasi tersebut memperbaiki\r\nkinerjanya. Ombudsman tidak dapat memberikan suatu bentuk sanksi kepada penyelenggara\r\nnegara yang telah mendapatkan rekomendasinya namun hanya menyampaikan kepada\r\natasan atau Presiden serta DPR untuk menindaklanjuti apabila terjadi dalam hal\r\nrekomendasi Ombudsman tidak dilaksanakan.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p><strong>Upaya Hukum<\/strong><\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Berdasarkan\r\npembahasan sebelumnya, dinyatakan bahwa, kekuatan mengikat putusan ajudikasi\r\nOmbudsman dalam penyelesaian sengketa pelayanan publik memiliki kekuatan hukum\r\nhanya sebagai rekomendasi, maka sudah tentu terhadap putusan tersebut dapat\r\ndilakukan upaya hukum lebih lanjut. Upaya hukum itu dapat dilaksanakan dengan\r\nbeberapa kemungkinan, yaitu: <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:list {\"ordered\":true} -->\r\n<ol><li>Mekanisme dalam UU Pelayanan Publik. Oleh karena proses penyelesaian sengketa pelayanan publik adalah bagian dari pengaduan dan pelaporan dari masyarakat terhadap pelayanan publik yang dilakukan oleh penyelenggara dan\/atau pelaksana pelayanan publik, upaya hukum yang dapat dilakukan adalah bila hasil putusan ajudikasi Ombudsman tersebut diabaikan\/tidak dilaksanakan oleh terlapor, maka terlapor dapat dilaporkan kepada instansi atasannya, dan terhadap yang bersangkutan dapat dikenai sanksi administrasi berupa teguran, penuruan gaji, penurunan jabatan, sampai pembebasan dari jabatan<a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a>, dengan maksud agar pihak terlapor mau melaksanakan putusan ajudikasi Ombudsman. Upaya hukum ini serupa dengan bentuk <em>administrateif beroep<\/em>. Bila ternyata pada pihak yang mengabaikan putusan ajudikasi itu ditemukan adanya perbuatan melawan hukum atau tindak pidana, maka pihak tersebut dapat diajukan ke muka Pengadilan Tata Usaha Negara dan\/atau Pengadilan Umum<a href=\"#_ftn4\">[4]<\/a>.<\/li><li>Mekanisme dalam UU Ombudsman dan Peraturan Ombudsman Republik Indonesia Nomor: 002 Tahun 2009 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Dan Penyelesaian Laporan (\u201c<strong>Peraturan Ombudsman No. 002\/2009<\/strong>\u201d). Dalam hal terlapor mengabaikan rekomendasi Ombudsman, berlaku ketentuan pasal 38 ayat (4) UU Ombudsman, yang berbunyi: <\/li><\/ol>\r\n<!-- \/wp:list -->\r\n\r\n<!-- wp:quote -->\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><em>\u201cDalam hal Terlapor dan atasan Terlapor tidak melaksanakan Rekomendasi atau hanya melaksanakan sebagian Rekomendasi dengan alasan yang tidak dapat diterima oleh Ombudsman, Ombudsman dapat mempublikasikan atasan Terlapor yang tidak melaksanakan Rekomendasi dan menyampaikan laporan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\r\n<!-- \/wp:quote -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Ketentuan ini\r\ndiatur lebih lanjut dalam Pasal 44 Peraturan Ombudsman No. 002\/2009 yakni:<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:list {\"ordered\":true} -->\r\n<ol><li>Ombudsman memantau pelaksanaan rekomendasi <\/li><li>Pemantauan pelaksanaan rekomendasi dilaksanakan sebelum tengat waktu 60 hari untuk melaksanakan rekomendasi berakhir <\/li><li>Ombudsman melakukan pendekatan persuasif agar Terlapor melaksanakan rekomendasi Ombudsman<\/li><li>Apabila dalam waktu 60 (enam puluh) hari rekomendasi tidak ditindaklanjuti, Ombudsman menyampaikan rekomendasi kepada atasan Terlapor mengenai sikap terlapor yang mengabaikan rekomendasi Ombudsman <\/li><li>Apabila dalam waktu 90 (sembilan puluh) hari atasan Terlapor tidak menindaklanjuti rekomendasi, Ombudsman dapat menyampaikan laporan kepada DPR\/DPRD dan Presiden\/Kepala Daerah<\/li><li>Ombudsman dapat melakukan publikasi atas sikap Terlapor dan Atasannya yang tidak menindaklanjuti rekomendasi Ombudsman<\/li><\/ol>\r\n<!-- \/wp:list -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph {\"align\":\"justify\"} -->\r\n<p class=\"has-text-align-justify\">Terhadap pihak yang\r\nmengabaikan rekomendasi ini, dapat dikenai sanksi administrasi sebagaimana diatur\r\ndalam Pasal 39 UU Ombudsman. Berdasarkan ketentuan tersebut di atas maka dapat\r\ndisimpulkan upaya hukum terhadap rekomendasi Ombudsman adalah mekanisme upaya\r\nadministratif yang berujung dengan penjatuhan sanksi administrasi, dan\r\nberdasarkan pembahasan di atas, hal tersebut menguatkan asumsi bahwa\r\npenyelesaian sengketa pelayanan publik melalui mekanisme ajudikasi di Ombudsman\r\nmasih harus dikaji lebih lanjut.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p>Semoga bermanfaat.<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p><em>Artikel ini ditulis oleh Associate Kami <strong>Satrio Sapto Nugroho<\/strong><\/em>.  email: <a href=\"mailto:satrio@fjp-law.com\">satrio@fjp-law.com<\/a> <\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p><\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p><strong>FREDRIK J PINAKUNARY LAW OFFICES<\/strong><strong><\/strong><br><\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:separator -->\r\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\r\n<!-- \/wp:separator -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> <a href=\"http:\/\/dictionary.law.com\/Default.aspx?selected=2328\">http:\/\/dictionary.law.com\/Default.aspx?selected=2328<\/a>\r\ndiakses pada 8 Juli 2020<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> Pasal 36 ayat (2) dan Pasal 40 ayat (1) UU Pelayanan Publik<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a> Pasal 54 UU Pelayanan Publik<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->\r\n\r\n<!-- wp:paragraph -->\r\n<p><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a> Pasal 52, Pasal 53, Pasal 55 s.d. Pasal 58 UU Pelayanan Publik<\/p>\r\n<!-- \/wp:paragraph -->","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1,194],"tags":[214,206],"class_list":["post-29980","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-hukum-administrasi-negara","tag-maladministrasi","tag-ombudsman"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29980","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29980"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29980\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31081,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29980\/revisions\/31081"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29981"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29980"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29980"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29980"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}