{"id":29840,"date":"2020-05-29T12:18:34","date_gmt":"2020-05-29T05:18:34","guid":{"rendered":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/?p=29840"},"modified":"2022-03-14T11:05:21","modified_gmt":"2022-03-14T04:05:21","slug":"saksi-dalam-hukum-pidana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-dalam-hukum-pidana\/","title":{"rendered":"Saksi Dalam Hukum Pidana"},"content":{"rendered":"\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Menurut\u00a0Pasal 1 angka 26\u00a0Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana\u00a0(\u201c<strong>KUHAP<\/strong>\u201d), yang dimaksud dengan saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Pengertian tersebut berdasarkan\u00a0Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65\/PUU-VIII\/2010 Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana\u00a0diperluas menjadi termasuk pula\u00a0<em>\u201corang yang dapat memberikan keterangan dalam rangka penyidikan, penuntutan, dan peradilan suatu tindak pidana yang tidak selalu ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri\u201d<\/em>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Keterangan saksi merupakan informasi atau keterangan yang diperoleh dari seorang atau lebih (saksi) tentang suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri. Keterangan saksi hanya akan menjadi alat bukti apabila disampaikan di depan persidangan (Pasal 185 Ayat 1 KUHAP). Keterangan seorang saksi tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah telah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya (Pasal 185 Ayat 2). Prinsip ini disebut\u00a0<em>unus testis nulus testis<\/em>\u00a0yang artiya satu saksi, bukanlah saksi. Sehingga keterangan seorang saksi tersebut harus didukung oleh alat bukti yang lain lagi misalnya keterangan ahli, petunjuk ataupun keterangan terdakwa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Keterangan yang diberikan saksi di depan persidangan harus berdasarkan pada apa yang dia lihat, dia dengar dan dia alami sendiri,\u00a0bukan\u00a0berdasarkan pendapat, pemikiran, dugaan, atau asumsi dari saksi tersebut. Apabila saksi memberikan keterangan berdasarkan pendapat ataupun dugaannya sendiri maka keterangan tersebut tidak dapat diterima sebagai suatu pertimbangan hakim atau dengan kata lain, keterangan yang demikian tidak termasuk sebagai alat bukti.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Selanjutnya Pasal 185 Ayat 6 KUHAP mengatakan, dalam menilai kebenaran keterangan saksi, maka hakim harus dengan sungguh-sungguh memperhatikan:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ol class=\"wp-block-list\">\r\n<li>Persesuaian antara keterangan saksi yang satu dengan yang lainnya;<\/li>\r\n<li>Persesuaian keterangan saksi dengan alat bukti lain;<\/li>\r\n<li>Alasan saksi memberi keterangan tertentu;<\/li>\r\n<li>Cara hidup dan kesusilaan dan hal-hal lain yang pada umumnya dapat mempengaruhi apakah keterangan itu dapat dipercaya atau tidak.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jenis-jenis saksi<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>1. Saksi yang meringankan<\/strong>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Saksi meringankan atau\u00a0<em>a\u00a0de\u00a0charge\u00a0<\/em>merupakan saksi yang diajukan oleh terdakwa dalam rangka melakukan pembelaan atas dakwaan yang ditujukan pada dirinya. Hal ini dilandasi oleh ketentuan\u00a0<strong>Pasal 65 KUHAP<\/strong>\u00a0<em>jo.<\/em>\u00a0<strong>Putusan MK 65\/PUU-VIII\/2010\u00a0<\/strong>yakni:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\r\n<p><em>Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya.<\/em><\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">\u00a0Selain itu, dasar hukum saksi\u00a0<em>a de charge\u00a0<\/em>juga diatur dalam\u00a0<strong>Pasal 116 ayat (3) KUHAP<\/strong>\u00a0jo.\u00a0<strong>Putusan MK 65\/PUU-VIII\/2010\u00a0<\/strong>yang berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\r\n<p><em>Dalam pemeriksaan tersangka ditanya apakah ia menghendaki saksi yang dapat menguntungkan baginya dan bilamana ada maka hal itu dicatat dalam berita acara.<\/em><\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2. Saksi yang memberatkan<\/strong>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Saksi memberatkan atau\u00a0<em>a charge<\/em>\u00a0adalah saksi yang keterangannya memberatkan terdakwa. Jenis saksi ini biasanya diajukan oleh penuntut umum. Saksi korban juga termasuk dalam kategori saksi yang memberatkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Penyebutan saksi yang memberatkan terdapat dalam\u00a0<strong>Pasal 160 ayat (1) KUHAP<\/strong>:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ol class=\"wp-block-list\">\r\n<li><em>Saksi dipanggil ke dalam ruang sidang seorang demi seorang menurut urutan yang dipandang sebaik-baiknya oleh hakim ketua sidang setelah mendengar pendapat penuntut umum, terdakwa atau penasihat hukum;<\/em><\/li>\r\n<li><em>Yang pertama-tama didengar keterangannya adalah korban yang menjadi saksi;<\/em><\/li>\r\n<li><em>Dalam hal ada saksi baik yang menguntungkan maupun yang memberatkan terdakwa yang tercantum dalam surat pelimpahan perkara dan atau yang diminta oleh terdakwa atau penasihat hukum atau penuntut umum selama berIangsungnya sidang atau sebelum dijatuhkannya putusan, hakim ketua sidang wajib mendengar keterangan saksi tersebut.<\/em><\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dengan demikian, perbedaan mendasar antara saksi meringankan (<em>a de charge<\/em>) dengan saksi memberatkan (<em>a charge<\/em>) adalah pada substansi keterangan yang diberikan apakah mendukung pembelaan terdakwa atau justru memberatkan\/melawan pembelaan terdakwa, serta pihak yang mengajukan saksi tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3. Saksi mahkota<\/strong>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Saksi Mahkota, adalah istilah untuk tersangka\/terdakwa yang dijadikan saksi untuk tersangka\/terdakwa lain yang bersama-sama melakukan suatu perbuatan pidana. Saksi mahkota bukanlah istilah yang dikenal dalam KUHAP. Namun istilah ini dapat ditemui dalam alasan yang tertuang pada memori kasasi yang diajukan oleh kejaksaan dalam\u00a0<strong>Putusan Mahkamah Agung Nomor 2437 K\/Pid.Sus\/2011\u00a0<\/strong>yang menyebutkan bahwa:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\r\n<p><em>Walaupun tidak diberikan suatu definisi otentik dalam KUHAP mengenai Saksi mahkota (<\/em>kroongetuide<em>), namun berdasarkan perspektif empirik maka\u00a0Saksi mahkota didefinisikan sebagai Saksi yang berasal atau diambil dari salah seorang tersangka atau Terdakwa lainnya yang bersama-sama melakukan perbuatan pidana, dan dalam hal mana kepada Saksi tersebut diberikan mahkota. Adapun\u00a0mahkota yang diberikan kepada Saksi yang berstatus Terdakwa tersebut adalah dalam bentuk ditiadakan penuntutan terhadap perkaranya atau diberikannya suatu tuntutan yang sangat ringan apabila perkaranya dilimpahkan ke Pengadilan atau dimaafkan atas kesalahan yang pernah dilakukan. Menurut Prof. Dr. Loebby Loqman, S.H., M.H., dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Saksi mahkota adalah kesaksian sesama Terdakwa, yang biasanya terjadi dalam peristiwa penyertaan<\/em>.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Konsekuensi Bila Menolak Menjadi Saksi<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pada dasarnya menolak panggilan sebagai saksi dikategorikan sebagai tindak pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (&#8220;<strong>KUHP<\/strong>&#8220;). Adapun ancaman hukuman bagi orang yang menolak panggilan sebagai saksi diatur di dalam Pasal 224 ayat (1) KUHP yang berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\r\n<p><em>Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam:<\/em><\/p>\r\n<p><em>1. dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan;<\/em><\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">R. Soesilo dalam bukunya yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, mengatakan bahwa supaya dapat dihukum berdasarkan Pasal 224 KUHP, orang tersebut harus:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ol class=\"wp-block-list\">\r\n<li>Dipanggil menurut undang-undang (oleh hakim) untuk menjadi saksi, ahli atau juru bahasa baik dalam perkara pidana, maupun dalam perkara perdata;<\/li>\r\n<li>Dengan sengaja tidak mau memenuhi (menolak) suatu kewajiban yang menurut undang-undang harus ia penuhi, misalnya kewajiban untuk datang pada sidang dan memberikan kesaksian, keterangan keahlian, menterjemahkan.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Perlu diingat, R. Soesilo juga menjelaskan bahwa orang itu harus benar-benar dengan sengaja menolak memenuhi kewajibannya tersebut, jika ia hanya lupa atau segan untuk datang saja, maka ia dikenakan Pasal 522 KUHP.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga bermanfaat,<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<div class=\"wp-block-group\">\r\n<div class=\"wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow\">\r\n<div class=\"wp-block-spacer\" style=\"height: 25px;\" aria-hidden=\"true\">\u00a0<\/div>\r\n\r\n\r\n\r\n<h6 class=\"wp-block-heading\"><strong>FREDRIK J PINAKUNARY LAW OFFICES<\/strong><\/h6>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-normal-font-size wp-block-paragraph\"><strong>LinkedIn: <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/company\/fjp-law-offices\/?viewAsMember=true\">FJP Law Offices<\/a> | Facebook: <a href=\"https:\/\/web.facebook.com\/FJPLaw\/\">@FJPLaw<\/a> | Instagram: <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/fredrik_jp\/\">@fredrik_jp<\/a><\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<div class=\"wp-block-spacer\" style=\"height: 26px;\" aria-hidden=\"true\">\u00a0<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"wp-block-group\">\r\n<div class=\"wp-block-group__inner-container\">\r\n\r\n\r\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Artikel Terkait Lainnya<\/h4>\r\n\r\n\r\n<ul class=\"wp-block-latest-posts__list alignleft wp-block-latest-posts is-layout-flow wp-block-latest-posts-is-layout-flow\"><li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-saksi-yang-tidak-dapat-didengar-keterangannya-dan-dapat-mengundurkan-diri-sebagai-saksi\/\" aria-label=\"Saksi-Saksi yang Tidak Dapat Didengar Keterangannya dan Dapat Mengundurkan Diri Sebagai Saksi\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"169\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Saksi-yang-tidak-dapat-didengar-sebagai-Saksi-300x169.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-saksi-yang-tidak-dapat-didengar-keterangannya-dan-dapat-mengundurkan-diri-sebagai-saksi\/\">Saksi-Saksi yang Tidak Dapat Didengar Keterangannya dan Dapat Mengundurkan Diri Sebagai Saksi<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/keadilan-restoratif-restorative-justice-dalam-hukum-acara-pidana-indonesia\/\" aria-label=\"Keadilan Restoratif (Restorative Justice) Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"169\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/Keadilan-Restoratif-dalam-Hukum-Acara-Pidana-Indonesia-300x169.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/keadilan-restoratif-restorative-justice-dalam-hukum-acara-pidana-indonesia\/\">Keadilan Restoratif (Restorative Justice) Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/memahami-perbedaan-grasi-amnesti-abolisi-dan-rehabilitasi\/\" aria-label=\"Memahami Perbedaan Grasi, Amnesti, Abolisi, dan Rehabilitasi\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"225\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Memahami-Perbedaan-Grasi-Amnesty-Abolisi-Rehabilitasi-300x225.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/memahami-perbedaan-grasi-amnesti-abolisi-dan-rehabilitasi\/\">Memahami Perbedaan Grasi, Amnesti, Abolisi, dan Rehabilitasi<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penerapan-asas-in-dubio-pro-reo\/\" aria-label=\"Penerapan Asas In Dubio Pro Reo\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"175\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/In-Dubio-Pro-Reo-300x175.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penerapan-asas-in-dubio-pro-reo\/\">Penerapan Asas In Dubio Pro Reo<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-dalam-hukum-pidana\/\" aria-label=\"Saksi Dalam Hukum Pidana\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"217\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/color-black-eyelash-human-body-face-criminal-987525-pxhere.com_-300x217.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-dalam-hukum-pidana\/\">Saksi Dalam Hukum Pidana<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/perlindungan-saksi-dan-korban\/\" aria-label=\"Perlindungan Saksi dan Korban\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"225\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Lembaga-Perlindungan-Saksi-dan-Korban-1-300x225.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/perlindungan-saksi-dan-korban\/\">Perlindungan Saksi dan Korban<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/praperadilan-dalam-perkara-pidana\/\" aria-label=\"Praperadilan Dalam Perkara Pidana\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/protection-of-minors-2815845_1920-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/praperadilan-dalam-perkara-pidana\/\">Praperadilan Dalam Perkara Pidana<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/teori-tempat-terjadinya-perbuatan-melawan-hukum-dalam-perkara-penghinaan\/\" aria-label=\"Teori Tempat Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum Dalam Perkara Penghinaan\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"214\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/bullying-4378156_1280-300x214.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"Gambar oleh Linus Sch\u00fctz dari Pixabay\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/teori-tempat-terjadinya-perbuatan-melawan-hukum-dalam-perkara-penghinaan\/\">Teori Tempat Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum Dalam Perkara Penghinaan<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/e-court-sebuah-terobosan-dalam-pengadilan-indonesia\/\" aria-label=\"E-Court: Sebuah Terobosan Dalam Pengadilan Indonesia\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"191\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/e-court-300x191.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" srcset=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/e-court-300x191.jpg 300w, https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/e-court.jpg 470w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/e-court-sebuah-terobosan-dalam-pengadilan-indonesia\/\">E-Court: Sebuah Terobosan Dalam Pengadilan Indonesia<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/kekuatan-pembuktian-testimonium-de-auditu\/\" aria-label=\"Kekuatan Pembuktian Testimonium De Auditu\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/De-auditu-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/kekuatan-pembuktian-testimonium-de-auditu\/\">Kekuatan Pembuktian Testimonium De Auditu<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/contempt-of-court-di-indonesia\/\" aria-label=\"Contempt of Court di Indonesia\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/contempt-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/contempt-of-court-di-indonesia\/\">Contempt of Court di Indonesia<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penerapan-eksepsi-obscuur-libel-dan-error-in-persona\/\" aria-label=\"Penerapan Eksepsi Obscuur Libel dan Error in Persona\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/supreme-court-building-1209701_1920-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penerapan-eksepsi-obscuur-libel-dan-error-in-persona\/\">Penerapan Eksepsi Obscuur Libel dan Error in Persona<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pengakuan-dalam-hukum-acara-pidana\/\" aria-label=\"Keterangan Terdakwa (Pengakuan) dalam  Perspektif Hukum Acara Pidana\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"190\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/handcuffs-921290_1920-300x190.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pengakuan-dalam-hukum-acara-pidana\/\">Keterangan Terdakwa (Pengakuan) dalam  Perspektif Hukum Acara Pidana<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-atheis-bagaimana-bersumpah-di-pengadilan\/\" aria-label=\"Saksi Ateis, Bagaimana Bersumpah di Pengadilan?\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"225\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/book-wood-hammer-brown-rule-books-738495-pxhere.com_-300x225.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/saksi-atheis-bagaimana-bersumpah-di-pengadilan\/\">Saksi Ateis, Bagaimana Bersumpah di Pengadilan?<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/asas-retroaktif-di-indonesia\/\" aria-label=\"Asas Retroaktif di Indonesia\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/Artikel-Website-Asas-Retroaktif-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/asas-retroaktif-di-indonesia\/\">Asas Retroaktif di Indonesia<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penangguhan-penahanan\/\" aria-label=\"Penangguhan Penahanan\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/judge-gavel-and-handcuffs-1461290384ibH-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/penangguhan-penahanan\/\">Penangguhan Penahanan<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pemanggilan-saksi-di-tingkat-penyidikan\/\" aria-label=\"Pemanggilan Saksi di Tingkat Penyidikan\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"160\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/judge-3665164_960_720-300x160.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pemanggilan-saksi-di-tingkat-penyidikan\/\">Pemanggilan Saksi di Tingkat Penyidikan<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/hak-tersangka-miranda-rules\/\" aria-label=\"Hak Tersangka \u2013 Miranda Rules\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"236\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/Miranda-Rules-300x236.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/hak-tersangka-miranda-rules\/\">Hak Tersangka \u2013 Miranda Rules<\/a><\/li>\n<\/ul><\/div>\r\n<\/div>\r\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut\u00a0Pasal 1 angka 26\u00a0Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana\u00a0(\u201cKUHAP\u201d), yang dimaksud dengan saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Pengertian tersebut berdasarkan\u00a0Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65\/PUU-VIII\/2010 Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29842,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1,31,30],"tags":[67,86,295,166,294,296],"class_list":["post-29840","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-hukum-acara-pidana","category-hukum-pidana","tag-hukum-acara-pidana","tag-hukum-pidana","tag-pemanggilan-saksi","tag-saksi","tag-saksi-dalam-hukum-pidana","tag-tindak-pidana"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29840","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29840"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29840\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31065,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29840\/revisions\/31065"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29842"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29840"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29840"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29840"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}