{"id":29838,"date":"2020-05-29T22:23:35","date_gmt":"2020-05-29T15:23:35","guid":{"rendered":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/?p=29838"},"modified":"2022-03-14T11:05:01","modified_gmt":"2022-03-14T04:05:01","slug":"bukti-surat-dalam-hukum-perdata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/bukti-surat-dalam-hukum-perdata\/","title":{"rendered":"Bukti Surat Dalam Hukum Perdata"},"content":{"rendered":"\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam Hukum Acara Perdata, kedua belah pihak yang berperkara wajib untuk mengajukan bukti. Pembuktian ini untuk meyakinkan Hakim tentang kebenaran dalil yang disampaikan kedua belah pihak sebelum hakim mengambil keputusan. Hal ini senada dengan ketentuan dalam pasal 1865 BW yang menyatakan bahwa setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut. Ketentuan seperti itu juga terdapat dalam pasal 163 HIR \/283 Rbg.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas dapat diambil suatu ajaran tentang pembuktian, yaitu: Penggugat wajib membuktikan dalil-dalil gugatnya, sedangkan Tergugat wajib pula membuktikan dalil-dalil bantahan atau sanggahannya. Pembuktian ini sangat penting bagi hakim dalam menyelesaikan\/memutus suatu perkara. Dengan kata lain hakim tidak dibenarkan menjatuhkan putusan terhadap suatu perkara tanpa alat bukti.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Menurut Pasal 1866 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (\u201c<strong>KUHPerdata<\/strong>\u201d), \u201calat-alat\u201d bukti terdiri atas:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ul class=\"wp-block-list\">\r\n<li>Bukti tulisan;<\/li>\r\n<li>Bukti dengan saksi-saksi;<\/li>\r\n<li>Persangkaan-persangkaan;<\/li>\r\n<li>Pengakuan;<\/li>\r\n<li>Sumpah.<\/li>\r\n<\/ul>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">M. Yahya Harahap menjelaskan bahwa pada Pasal 1866 KUHPerdata, urutan pertama alat bukti disebut bukti tulisan (<em>schrifftelijke bewijs<\/em>, written evidence), namun ada pula yang menyebut alat bukti surat. Dalam hukum acara perdata bukti tulisan merupakan alat bukti yang penting dan paling utama dibandingkan dengan yang lain. Apalagi pada masa sekarang, semua tindakan hukum dicatat atau dituliskan dalam berbagai bentuk surat, yang sengaja dibuat untuk itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bukti Surat<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Bukti surat atau tulisan adalah alat bukti yang berupa tulisan yang berisi keterangan tertentu tentang suatu peristiwa, keadaan atau hal-hal tertentu dan ditandatangani, bukti tertulis tersebut lazim disebut akta.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan demikian, bahwa bukti tertulis merupakan :<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ul class=\"wp-block-list\">\r\n<li>suatu tulisan yang berisi keterangan-keterangan tertentu<\/li>\r\n<li>ditandatangani<\/li>\r\n<li>merupakan dasar sesuatu hak atau perjanjian<\/li>\r\n<\/ul>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan Pasal 1867 BW, pembuktian dengan tulisan dilakukan dengan tulisan-tulisan autentik maupun dengan tulisan di bawah tangan. Dengan kata lain, akta itu terdiri dari 2 jenis yaitu:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1. Akta Autentik<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Akta autentik yaitu suatu akta dalam bentuk yang ditentukan undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta itu dibuat (Pasal 1868 BW). Akta autentik merupakan bukti yang sempurna, hal tersebut dapat disimpulkan dari Pasal 1870 BW, kecuali jika terbukti sebaliknya, bahwa akta autentik tersebut palsu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Hal lain yang berkaitan dengan kekuatan pembuktian akta autentik, yakni:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ol class=\"wp-block-list\">\r\n<li>Apabila yang termuat di dalam akta itu sebagai penuturan belaka yang tidak ada hubungannya dengan pokok isi akta, maka hanya dapat digunakan sebagai permulaan pembuktian dengan tulisan.<\/li>\r\n<li>Menurut Pasal 1872 BW, jika suatu akta autentik disangka\/ diduga palsu, pelaksanaannya dapat ditangguhkan.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2. Akta di bawah tangan<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Akta di bawah tangan adalah akta yang dibuat oleh para pihak tentang suatu peristiwa, kejadian atau hal tertentu dan ditandatangani oleh para pihak yang berkepentingan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Kekuatan pembuktian akta di bawah tangan dapat disimpulkan dari Pasal 1875-1877 BW, bahwa:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ol class=\"wp-block-list\">\r\n<li>Apabila isi akta di bawah tangan itu diakui oleh orang yang dimaksud dalam akta itu, bagi orang-orang yang menandatangani dan para ahli warisnya serta orang yang mendapat hak daripadanya merupakan bukti yang sempurna seperti akta autentik.<\/li>\r\n<li>Apabila tanda tangan yang tertera di dalam akta di bawah tangan itu diakui oleh para pihak, akta itu memiliki kekuatan pembuktian sempurna. Jika tandatangan tersebut dipungkiri\/ tidak diakui, hakim memerintahkan supaya kebenaran akta tersebut diperiksa.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan Pasal 1881 BW, kekuatan pembuktian dari surat-surat yang bukan akta adalah di tangan hakim untuk mempertimbangkan. Sedangkan, kekuatan pembuktian dari salinan suatu akta asalkan sesuai dengan aslinya adalah mempunyai kekuatan pembuktian seperti akta aslinya (Pasal 1888 BW).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Tidak semua alat bukti surat mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna, misalnya surat-surat biasa seperti yang dinamakan surat di bawah tangan, suatu perjanjian yang tidak dibuat di hadapan pejabat yang berwenang membuatnya, seperti akta jaminan fidusia, akta pendirian perseroan terbatas, akta pembagian warisan, yang merupakan akta-akta yang dibuat oleh notaris sehingga disebut pula sebagai akta autentik. Kenyataannya dalam hubungan hukum di tengah masyarakat, hubungan hukum yang tertuang dalam bentuk surat seperti jual beli tanah merupakan praktik yang lazim di kalangan masyarakat pedesaan. Proses jual beli tanah yang sederhana seperti itu cukup hanya disaksikan beberapa orang dan diberitahukan kepada Kepala Desa, sehingga kekuatan pembuktiannya lemah apabila timbul persengketaan hingga ke pengadilan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Perlu diketahui dari sekian alat-alat bukti yang telah ditentukan dalam hukum acara perdata, alat bukti yang paling utama adalah alat bukti surat, terlebih menyangkut hak kepemilikan, hak penguasaan terhadap suatu benda, dan perjanjian\/perikatan. Oleh sebab itu, di dalam persidangan majelis hakim harus mendahulukan untuk mendapatkan alat bukti tertulis dari pada alat bukti lainnya, bahkan meskipun telah selesai tahap pembuktian. Dalam hal para pihak masih mengajukan alat bukti tambahan berupa alat bukti surat, maka alat bukti tersebut patut diterima dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Perlu diingat pula, berdasarkan Undang-Undang No. 13 tahun 1985 tentang Bea Materai bahwa semua surat- surat yang dijadikan alat bukti dalam persidangan harus di-<em>nazegelen<\/em> (dimateraikan) terlebih dahulu di kantor pos agar surat tersebut dapat dinilai sebagai alat bukti.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Terkait surat-surat dalam bentuk fotocopy yang dijadikan alat bukti di pengadilan, pihak yang mengajukan berkewajiban menunjukkan asli surat tersebut kepada Majelis Hakim, yang kemudian Majelis Hakim membubuhkan tulisan singkat pada sudut atas surat terbut bahwa surat tersebut telah dicocokkan dengan aslinya, kemudian diparaf oleh Ketua Majelis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga bermanfaat,<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<div class=\"wp-block-group\">\r\n<div class=\"wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow\">\r\n<div class=\"wp-block-spacer\" style=\"height: 25px;\" aria-hidden=\"true\">\u00a0<\/div>\r\n\r\n\r\n\r\n<h6 class=\"wp-block-heading\"><strong>FREDRIK J PINAKUNARY LAW OFFICES<\/strong><\/h6>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-normal-font-size wp-block-paragraph\"><strong>LinkedIn: <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/company\/fjp-law-offices\/?viewAsMember=true\">FJP Law Offices<\/a> | Facebook: <a href=\"https:\/\/web.facebook.com\/FJPLaw\/\">@FJPLaw<\/a> | Instagram: <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/fredrik_jp\/\">@fredrik_jp<\/a><\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<div class=\"wp-block-spacer\" style=\"height: 26px;\" aria-hidden=\"true\">\u00a0<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"wp-block-group\">\r\n<div class=\"wp-block-group__inner-container\">\r\n\r\n\r\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Artikel Terkait Lainnya<\/h4>\r\n\r\n\r\n<ul class=\"wp-block-latest-posts__list alignleft wp-block-latest-posts is-layout-flow wp-block-latest-posts-is-layout-flow\"><li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/kewenangan-pengadilan-tata-usaha-negara\/\" aria-label=\"Kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"225\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pengadilan-Tata-Usaha-Negara-300x225.png\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/kewenangan-pengadilan-tata-usaha-negara\/\">Kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/bukti-surat-dalam-hukum-perdata\/\" aria-label=\"Bukti Surat Dalam Hukum Perdata\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"194\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/documents-300x194.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/bukti-surat-dalam-hukum-perdata\/\">Bukti Surat Dalam Hukum Perdata<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pemanggilan-tergugat-yang-berkedudukan-di-luar-negeri\/\" aria-label=\"Pemanggilan Tergugat yang Berkedudukan di Luar Negeri\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"161\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/email-marketing-4103437_1920-300x161.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pemanggilan-tergugat-yang-berkedudukan-di-luar-negeri\/\">Pemanggilan Tergugat yang Berkedudukan di Luar Negeri<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/teori-tempat-terjadinya-perbuatan-melawan-hukum-dalam-perkara-penghinaan\/\" aria-label=\"Teori Tempat Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum Dalam Perkara Penghinaan\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"214\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/bullying-4378156_1280-300x214.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"Gambar oleh Linus Sch\u00fctz dari Pixabay\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/teori-tempat-terjadinya-perbuatan-melawan-hukum-dalam-perkara-penghinaan\/\">Teori Tempat Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum Dalam Perkara Penghinaan<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/e-court-sebuah-terobosan-dalam-pengadilan-indonesia\/\" aria-label=\"E-Court: Sebuah Terobosan Dalam Pengadilan Indonesia\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"191\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/e-court-300x191.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" srcset=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/e-court-300x191.jpg 300w, https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/e-court.jpg 470w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/e-court-sebuah-terobosan-dalam-pengadilan-indonesia\/\">E-Court: Sebuah Terobosan Dalam Pengadilan Indonesia<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pengaturan-pencabutan-gugatan-dalam-hukum-perdata-indonesia\/\" aria-label=\"Pengaturan Pencabutan Gugatan dalam Hukum Perdata Indonesia\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/supreme-court-building-1209701_1920-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pengaturan-pencabutan-gugatan-dalam-hukum-perdata-indonesia\/\">Pengaturan Pencabutan Gugatan dalam Hukum Perdata Indonesia<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pemeriksaan-setempat-descente\/\" aria-label=\"Pemeriksaan Setempat (descente)\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"224\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/1024px-IndonesianSupremeCourt-descente-300x224.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pemeriksaan-setempat-descente\/\">Pemeriksaan Setempat (descente)<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/perubahan-gugatan-dalam-hukum-perdata-indonesia\/\" aria-label=\"Perubahan Gugatan dalam Hukum Perdata Indonesia\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"284\" height=\"178\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/images.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/perubahan-gugatan-dalam-hukum-perdata-indonesia\/\">Perubahan Gugatan dalam Hukum Perdata Indonesia<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/kewajiban-hakim-mendamaikan-para-pihak-berperkara\/\" aria-label=\"Kewajiban Hakim Mendamaikan Para Pihak Berperkara\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"163\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/shaking-hands-3091908_1920-300x163.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/kewajiban-hakim-mendamaikan-para-pihak-berperkara\/\">Kewajiban Hakim Mendamaikan Para Pihak Berperkara<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/contempt-of-court-di-indonesia\/\" aria-label=\"Contempt of Court di Indonesia\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/contempt-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/contempt-of-court-di-indonesia\/\">Contempt of Court di Indonesia<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/perbuatan-melawan-hukum-v-wanprestasi\/\" aria-label=\"Perbuatan Melawan Hukum v. Wanprestasi\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/chair-court-gavel-hammer-995268-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"Foto oleh Wanderin Nomad Photography dari Pexels\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/perbuatan-melawan-hukum-v-wanprestasi\/\">Perbuatan Melawan Hukum v. Wanprestasi<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/mengenal-putusan-serta-merta\/\" aria-label=\"Mengenal Putusan Serta Merta\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"169\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/law-3949481_1920-300x169.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"Gambar oleh Tomislav Jakupec dari Pixabay\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/mengenal-putusan-serta-merta\/\">Mengenal Putusan Serta Merta<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/mengenal-gugatan-actio-popularis-atau-citizen-lawsuit\/\" aria-label=\"Mengenal Gugatan Actio Popularis atau Citizen Lawsuit\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/protest-4499802_1920-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/mengenal-gugatan-actio-popularis-atau-citizen-lawsuit\/\">Mengenal Gugatan Actio Popularis atau Citizen Lawsuit<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/ruang-lingkup-pemeriksaan-di-tingkat-banding-dan-kasasi\/\" aria-label=\"Ruang Lingkup Pemeriksaan di Tingkat  Banding dan Kasasi\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/appeal-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/ruang-lingkup-pemeriksaan-di-tingkat-banding-dan-kasasi\/\">Ruang Lingkup Pemeriksaan di Tingkat  Banding dan Kasasi<\/a><\/li>\n<li><div class=\"wp-block-latest-posts__featured-image alignleft\"><a href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/apakah-eksepsi-ketidakberwenangan-pengadilan-harus-diputus-terlebih-dahulu\/\" aria-label=\"Apakah Eksepsi Ketidakberwenangan Pengadilan  Harus Diputus Terlebih Dahulu?\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/4481283288_9f22907eea_o-300x200.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium wp-post-image\" alt=\"\" style=\"max-height:250px;\" \/><\/a><\/div><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/fjp-law.com\/id\/apakah-eksepsi-ketidakberwenangan-pengadilan-harus-diputus-terlebih-dahulu\/\">Apakah Eksepsi Ketidakberwenangan Pengadilan  Harus Diputus Terlebih Dahulu?<\/a><\/li>\n<\/ul><\/div>\r\n<\/div>\r\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam Hukum Acara Perdata, kedua belah pihak yang berperkara wajib untuk mengajukan bukti. Pembuktian ini untuk meyakinkan Hakim tentang kebenaran dalil yang disampaikan kedua belah pihak sebelum hakim mengambil keputusan. Hal ini senada dengan ketentuan dalam pasal 1865 BW yang menyatakan bahwa setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak atau guna meneguhkan haknya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29845,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1,79,72],"tags":[196],"class_list":["post-29838","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-hukum-acara-perdata","category-hukum-perdata","tag-bukti-surat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29838","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29838"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29838\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31064,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29838\/revisions\/31064"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29845"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29838"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29838"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29838"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}