{"id":29793,"date":"2020-04-30T18:09:47","date_gmt":"2020-04-30T11:09:47","guid":{"rendered":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/?p=29793"},"modified":"2020-05-05T16:27:05","modified_gmt":"2020-05-05T09:27:05","slug":"teori-tempat-terjadinya-perbuatan-melawan-hukum-dalam-perkara-penghinaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/teori-tempat-terjadinya-perbuatan-melawan-hukum-dalam-perkara-penghinaan\/","title":{"rendered":"Teori Tempat Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum Dalam Perkara Penghinaan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Menurut Prof. Mr. Dr. Sudargo Gautama terdapat beberapa teori untuk\nmenentukan dimana dan kapan Perbuatan Melawan Hukum terjadi. Teori-teori\ntersebut antara lain: <a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>1. Teori Tempat Terjadinya Kerugian<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Teori ini dianut oleh negara Amerika Serikat, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 377 <em>Reinstatement<\/em> yang menyatakan bahwa tempat terjadinya Perbuatan Melawan Hukum adalah tempat terjadinya akibat dari perbuatan tersebut (<em>Der Ort des letzten Erreignisses<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201c<em>The place of wrong is in the state where the last event necessary to make an actor liable for an alleged tort takes place.<\/em>\u201d<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan teori tersebut berarti \u201c<em>locus<\/em>\u201d atau \u201c<em>tempat<\/em>\u201d\nterjadinya perbuatan melawan hukum untuk penghinaan\/pencemaran nama baik dapat\nterjadi pada tempat dimana surat penghinaan tersebut diterima baik oleh orang\nyang bersangkutan ataupun orang lain yang terkait dengan adanya surat\npenghinaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2. Teori Tempat dimana dilakukan Perbuatan (<em>Lex Loci Delicte<\/em>)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Teori yang pada umumnya dianut oleh negara-negara Eropa Kontinental ini\nmenyatakan bahwa tempat dilakukannya perbuatan melawan hukum adalah tempat\ndimana si pelanggar melakukan perbuatannya. Jadi \u201c<em>Spierbeweging<\/em>\u201d yang\nbersangkutanlah yang dipentingkan. Dalam kasus perbuatan melawan hukum untuk\npenghinaan\/pencemaran nama baik, maka yang dianggap sebagai tempat perbuatan\nmelawan hukum adalah tempat dimana surat yang bersifat penghinaan tersebut\ndilayangkan, atau dalam hal penghinaan tersebut dilakukan melalui media\/pers\nmaka tempat dimana pers tersebut diterbitkan. Teori ini dianggap sebagai teori\nyang sangat wajar karena sudah sewajarnya Tergugat mengharapkan berlakunya\nhukum dari tempat dia melakukan perbuatan tersebut, dan bukan sistem hukum yang\ntidak dapat ia duga (<em>could not be foreseen<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3. Teori Kombinasi Kebebasan Memilih<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Teori ini dianut oleh <em>Reichsgerichts<\/em> Jerman dalam perumusannya\nyang terkenal dengan \u201c<em>tatort<\/em>\u201d pada tahun 1909, yang menyatakan:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cTempat terjadinya perbuatan melanggar hukum dalam dimana saja suatu bagian esensial dari perbuatan dursila itu telah dilakukan (\u201c<\/em>jeder Ort wo sich der recht serherbeliche Tatbestand ent weder in seiner Totalitat- oder bei Fortsetzung uber mehrere Gerichtsbezirke \u2013 in einem wesentlichen Stucke zugetagenhat<em>\u201d).\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Jika ini diterapkan pada Perbuatan Melawan Hukum sehubungan dengan\npenghinaan dan pencemaran nama baik, maka Perbuatan Melawan Hukum tersebut\ndapat ditentukan terjadi di tempat:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Surat Penghinaan tersebut dibuat atau apabila melalui media\/pers, pada\nsaat media tersebut diterbitkan; atau<\/li><li>orang yang bersangkutan membaca berita tersebut.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>4. Teori <em>the most significant relationship\/the most characteristic connection<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam teori ini, penentu tempat (<em>locus<\/em>) terjadinya Perbuatan\nMelawan hukum dikaitkan dengan hal-hal yang paling signifikan sehubungan dengan\nperkara yang bersangkutan. Jadi yang digunakan adalah <em>individualizing method<\/em>.\nDengan demikian, akan dihindarkan kesulitan-kesulitan yang timbul pada waktu\nmenentukan \u201c<em>locus<\/em>\u201d, terutama jika <em>Tort <\/em>bersangkutan mempunyai\nhubungan dengan berbagai sistem hukum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam praktik hukum di Indonesia, penggunaan teori Tempat Terjadinya\nPerbuatan Melawan Hukum ini telah dilakukan oleh Majelis Hakim dalam memutus\nperkara perdata di Indonesia, salah satunya adalah Putusan Sela yang\ndikeluarkan oleh Majelis Hakim perkara Time versus Soeharto yang menyatakan\nsebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cMenimbang bahwa memang harus diakui untuk menentukan tempat (<\/em>locus<em>) dimana suatu perbuatan melawan hukum (<\/em>the place of wrong<em>) tidaklah mudah. Hal ini terjadi karena adalah besar sekali kemungkinan tempat dilakukan perbuatan materiil oleh pelaku tidak sama tempat dengan tempat dimana akibat dari perbuatan tersebut terjadi. Untuk memecahkan masalah tersebut dalam ilmu hukum dikenal beberapa teori di antaranya:<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><em>Teori tempat terjadinya akibat dari perbuatan tersebut;<\/em><\/li><li><em>Teori tempat dimana perbuatan dilakukan;<\/em><\/li><li><em>Teori Kombinasi dengan kebebasan memilih;<\/em><\/li><\/ol>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Menimbang bahwa akan tetapi ini pun akan mengalami kesulitan apabila suatu peristiwa hukum tertentu bisa terjadi di beberapa tempat yang berlainan, misalnya perjanjian yang dilakukan melalui alat komunikasi modern, misalnya melalui telepon, faksimili, maupun alat komunikasi modern lainnya, hal yang sama juga bisa terjadi dalam suatu perbuatan yang dilakukan melalui surat, penerbitan dan penyiaran melalui alat visual;<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Menimbang bahwa khusus dalam perkara ini yang gugatannya didalilkan pada perbuatan melawan hukum yang dilakukan melalui penerbitan suatu berita yang oleh Penggugat dirasakan sebagai suatu pencemaran nama baiknya;<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Menimbang bahwa majalah yang diterbitkan oleh Para Tergugat tersebut mencakup wilayah peredaran yang boleh dikatakan mencakup sebagian negara-negara di dunia;<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Bahwa pada waktu penulisan dan penerbitan majalah tersebut dilakukan oleh Para Tergugat di Hongkong namun akibat hukum dari perbuatan yang dilakukan oleh Para Tergugat tersebut melalaui berita yang terdapat dalam majalah tersebut baru dirasakan oleh Penggugat saat mendengar, membaca berita tersebut atau melalui berita yang tersiar dalam masyarakat Indonesia;<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Menimbang dengan demikian menurut pendapat pengadilan, <\/em>les locidilicti<em> dari perbuatan yang dilakukan oleh Para Tergugat tersebut adalah di Indonesia dan dalam hal ini di Jakarta yang termasuk wilayah hukum Pengadilan Negeri Jakarta, yang termasuk wilayah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u2026\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Selanjutnya kita akan membahas <strong>Doktrin <em>Forum Non-Convenience<\/em><\/strong> yang pada umumnya diterapkan di negara yang menganut sistem <em>common law<\/em> dan pada dasarnya diterapkan pada perkara yang jelas tidak memiliki titik taut dengan pengadilan yang memeriksa perkara tersebut.<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam buku Pengantar Perbandingan Sistem Hukum, Ade Maman\nSuherman menjelaskan bahwa yang dimaksud <em>Forum Non-Convenience<\/em> adalah:<a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cWalaupun suatu pengadilan memiliki yurisdiksi terhadap terdakwa, tapi dengan pertimbangan tertentu dapat mengalihkan penyelesaiannya pada pengadilan yang lebih mudah. Beberapa pertimbangan apabila&nbsp; hampir semua barang bukti ada di negara lain, termasuk saksi-saksi ada pada lokasi negara lain sehingga akan membebani perkara dengan biaya mahal. Klausula semacam ini dinamakan <\/em>Forum Non-Convenience<em>.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Prinsip ini dikenal di Amerika Serikat untuk menolak perkara-perkara yang sesungguhnya masuk dalam yurisdiksi pengadilan tersebut tapi dengan menjunjung tinggi rasa keadilan bagi para pihak maka pengadilan yang bersangkutan menolak untuk memeriksa perkara itu dengan pertimbangan ada pengadilan lain yang lebih cocok untuk memeriksa perkara tersebut. Mengenai kecocokan tersebut dapat dilihat dari titik taut (<em>point of contact<\/em>) antara perkara dengan pengadilan yang bersangkutan atau yang juga dalam hukum kontrak dikenal dengan konsep <em>the most characteristic connection <\/em>atau<em> the most significant relationship<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Apabila teori Tempat Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum\ndan doktrin <em>Forum Non-Convenience<\/em> dikaitkan maka, teori Tempat\nTerjadinya Perbuatan Melawan Hukum merupakan penentu yang <em>significant <\/em>apakah\nsuatu pengadilan dapat dinyatakan <em>convenient<\/em> atau cocok untuk mengadili\nsuatu perkara, selain hal-hal lain seperti domisili\/tempat kediaman Penggugat\ndan Tergugat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Apabila tempat terjadinya perbuatan melawan hukum\nditentukan tidak terjadi pada wilayah yurisdiksi pengadilan yang mengadili,\nmaka <strong>meskipun pengadilan tersebut berhak dan memiliki yurisdiksi untuk\nmengadili perkara tersebut, namun berdasarkan prinsip \u201c<em>Forum Non-Convenience<\/em>\u201d,\npengadilan tersebut harus menolak karena ada pengadilan lain yang dapat lebih\nlayak memeriksa perkara tersebut.<a href=\"#_ftn4\"><strong>[4]<\/strong><\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berbicara mengenai dimana menggugat tergugat yang adalah orang atau badan hukum asing, tidak bisa dilepaskan dari Pasal 100 RV<a href=\"#_ftn5\">[5]<\/a> mengenai seorang asing dapat digugat di Pengadilan di Indonesia sehubungan dengan perikatan yang dilakukan dimana saja dengan orang Indonesia. Jadi pada dasarnya Pengadilan Indonesia <strong>memiliki yurisdiksi<\/strong> untuk memeriksa perkara yang tergugatnya merupakan orang atau badan hukum asing dan penggugatnya orang Indonesia atas perikatan yang dibuatnya dimana saja, baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Namun memiliki yurisdiksi tidak berarti <strong>memiliki\nkelayakan yang cukup<\/strong> untuk memeriksa perkara yang bersangkutan karena\nkelayakan pengadilan tersebut dalam memeriksa perkara harus ditinjau dari:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Tempat terjadinya\nPerbuatan Melawan hukum (<em>the place where the Tort occurred\/the place of\nwrong)<\/em>;<\/li><li>Jenis dari Perbuatan\nMelawan hukum<em> (the nature of the dispute)<\/em>;<\/li><li>Hukum yang mengatur\ntransaksi apabila perselisihan berhubungan dengan kontrak<em> (the law governing\nthe transaction, from the form of the contract)<\/em>;<\/li><li>Tempat dimana para pihak\nberdomisili atau menjalankan bisnisnya<em> (the place where the parties reside\nor carry on business)<\/em>;<\/li><li>Biaya dari persidangan<em>\n(the cost of the trial)<\/em>;<\/li><li>Kesanggupan dari saksi<em>\n(availability and convenience of witnesses)<\/em>;<\/li><li>Tempat dimana terjadi\nakibat dari Perbuatan Melawan Hukum<em> (the place where the tort giving rise to\nthe litigation occurred)<\/em>;<\/li><li>Eksekusi dari putusan<em>\n(enforceability of resulting judgment)<\/em>.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga bermanfaat,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>FREDRIK J PINAKUNARY LAW OFFICES<\/strong><br><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> Hukum Perdata International Indonesia Jilid III\nBagian 2 Buku ke 8, halaman 193, Penerbit PT Alumni Cet IV, 2002<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> <em>Lat. Inconvenient forum. Doctrine which allows\na court which has jurisdiction over a case to decline to hear the case out of\nfairness to the parties if there is another court available which would be more\ncon<\/em><em>v<\/em><em>enient.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a> Pengantar Perbandingan Sistem Hukum, Ade Maman\nSuherman, PT Raja Grafindo\nPersada, Cetakan I, 2004.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a> <em>The Jurisdiction in which a tort has been\ncommitted is prima facie the natural forum for the determination of the dispute<\/em>.\nDistillers Company v. Thompson [1971] A.C.458<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref5\">[5]<\/a> <strong>Pasal 100 RV<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang asing bukan penduduk bahkan tidak berdiam\ndi Indonesia dapat digugat di hadapan hakim Indonesia untuk perikatan-perikatan\nyang dilakukan di Indonesia atau di mana saja dengan warga negara Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut Prof. Mr. Dr. Sudargo Gautama terdapat beberapa teori untuk menentukan dimana dan kapan Perbuatan Melawan Hukum terjadi. Teori-teori tersebut antara lain: [1] 1. Teori Tempat Terjadinya Kerugian Teori ini dianut oleh negara Amerika Serikat, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 377 Reinstatement yang menyatakan bahwa tempat terjadinya Perbuatan Melawan Hukum adalah tempat terjadinya akibat dari perbuatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29794,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1,79,31],"tags":[179,178,141],"class_list":["post-29793","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-hukum-acara-perdata","category-hukum-acara-pidana","tag-non-conveniens","tag-penghinaan","tag-perbuatan-melawan-hukum"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29793","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29793"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29793\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29804,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29793\/revisions\/29804"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29794"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29793"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29793"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29793"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}