{"id":29695,"date":"2020-04-06T18:10:26","date_gmt":"2020-04-06T11:10:26","guid":{"rendered":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/?p=29695"},"modified":"2020-04-06T18:10:31","modified_gmt":"2020-04-06T11:10:31","slug":"contempt-of-court-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/contempt-of-court-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Contempt of Court di Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Masih ingatkah dengan insiden\nseorang pengacara yang memukul Hakim dengan menggunakan ikat pinggang pada saat\npembacaan putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat? Menurut kabar di media\nmassa, Hakim yang menjadi korban dalam insiden tersebut membuat laporan ke\nPolres Jakarta Pusat, Hakim tersebut menyebut bahwa tindakan pengacara itu\nmerupakan penghinaan terhadap lembaga peradilan (<em>Contempt of Court<\/em>).<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a> Selain insiden\nini, menurut catatan Ikatan Hakim Indonesia (\u201c<strong>IKAHI<\/strong>\u201d) masih banyak\ninsiden lain tentang <em>Contempt of Court<\/em>, antara lain:<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a> pada 15\nNovember 2003, gedung Pengadilan Negeri Larantuka, Nusa Tenggara Timur dibakar\noleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Peristiwa yang sama juga terjadi\ndi Pengadilan Negeri Maumere, Nusa Tenggara Timur tahun 2006, tahun 2011\nterjadi di Pengadilan Negeri Temanggung Jawa Tengah, tahun 2013 di Pengadilan\nNegeri Depok, Jawa Barat, dan tahun 2018 terjadi di Pengadilan Negeri Bantul,\nDI Yogyakarta. Tidak hanya infrastruktur pengadilan, penyerangan terhadap hakim\njuga kerap terjadi. Pada tahun 2013, seorang hakim di Gorontalo diserang saat\nberkendara. Jauh sebelum itu, Hakim Agung Syaifuddin Kartasasmita ditembak\nhingga tewas saat berkendara menuju kantornya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dengan maraknya insiden\nterkait dengan <em>Contempt of Court <\/em>ini, pertama-tama, penulis akan\nmenguraikan arti <em>Contempt of Court <\/em>menurut hukum Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><em>Contempt of Court<\/em> merupakan istilah yang berasal dari sistem <em>common law<\/em>.\n<em>Contempt<\/em> berarti melanggar, menghina, atau memandang rendah. <em>Court<\/em>\nberarti pengadilan. Dari kedua pengertian tersebut <em>Contempt of Court<\/em>\ndapat diartikan sebagai setiap tindakan atau perbuatan baik aktif maupun pasif,\ntingkah laku sikap, sikap dan\/atau ucapan baik di dalam maupun di luar\npengadilan yang bermaksud merendahkan dan merongrong kewibawaan, martabat dan\nkehormatan institusi peradilan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Istilah <em>Contempt of\nCourt <\/em>pertama kali ditemukan dalam Butir 4 alinea ke-4 Penjelasan Umum\nUndang-Undang No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, yang menjelaskan:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cSelanjutnya untuk dapat lebih menjamin terciptanya suasana yang sebaik-baiknya bagi penyelenggaraan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, <strong>maka perlu pula dibuat suatu undang-undang yang mengatur penindakan terhadap perbuatan, tingkah laku, sikap dan\/atau ucapan yang dapat merendahkan dan merongrong kewibawaan, martabat, dan kehormatan badan peradilan yang dikenal sebagai <\/strong><\/em><strong>&#8220;Contempt of Court&#8221;<\/strong>.<em>\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan\nNaskah Akademis Penelitian <em>Contempt of Court<\/em> terbitan Puslitbang Hukum\ndan Peradilan Mahkamah Agung RI, secara umum perbuatan yang dapat dikategorikan\ndan dikualifikasikan sebagai penghinaan terhadap lembaga peradilan atau <em>Contempt\nof Court<\/em> itu adalah perbuatan tingkah laku, sikap, dan ucapan yang dapat\nmerongrong kewibawaan, martabat, dan kehormatan lembaga peradilan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan\nNaskah Akademis tersebut secara khusus pula disebutkan macam bentuk perbuatan\nyang termasuk dalam pengertian penghinaan terhadap Lembaga Peradilan\/Pengadilan\nantara lain:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Berperilaku tercela dan tidak pantas di Pengadilan (<em>Misbehaving\nin Court<\/em>);<\/li><li>Tidak menaati perintah-perintah pengadilan (<em>Disobeying\nCourt Orders<\/em>);<\/li><li>Menyerang integritas dan impartialitas pengadilan (<em>Scandalising\nthe Court<\/em>);<\/li><li>Menghalangi jalannya penyelenggaraan peradilan (<em>Obstructing\nJustice<\/em>);<\/li><li>Perbuatan-perbuatan penghinaan terhadap pengadilan (<em>Contempt\nof Court<\/em>) dilakukan dengan cara pemberitahuan\/publikasi (<em>Sub-Judice Rule<\/em>).<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Secara hukum\nnasional, mengenai penghinaan terhadap pengadilan \u2013 <em>Contempt of Court <\/em>terdapat\ndalam beberapa pasal di Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (\u201c<strong>KUHP<\/strong>\u201d) dan\nKitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (\u201c<strong>KUHAP<\/strong>\u201d).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1. <em>Contempt of Court <\/em>dalam KUHP<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pasal 207 KUHP<\/strong><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cBarang siapa dengan sengaja di muka umum dengan lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pasal 217 KUHP<\/strong><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cBarang siapa menimbulkan kegaduhan dalam sidang pengadilan atau di tempat di mana seorang pejabat sedang menjalankan tugasnya yang sah di muka umum, dan tidak pergi sesudah diperintah oleh atau atas nama penguasa yang berwenang, diancam dengan pidana penjara paling lama tiga minggu atau pidana denda paling banyak seribu delapan ratus rupiah.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pasal 224 KUHP<\/strong><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cBarang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam:<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>1. <em>dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan;<\/em><\/p><p>2b<em>dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2. <em>Contempt of Court <\/em>dalam KUHAP<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pasal 217 KUHAP<\/strong><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201c(1) Hakim ketua sidang memimpin pemeriksaan dan memelihara tata tertib di persidangan.<\/em><\/p><p><em>(2) Segala sesuatu yang diperintahkan oleh hakim ketua sidang untuk memelihara tata tertib di persidangan wajib dilaksanakan dengan segera dan cermat.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pasal 218 KUHAP<\/strong><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201c(1) Dalam ruang sidang siapa pun wajib menunjukkan sikap hormat kepada pengadilan.<\/em><\/p><p><em>(2) Siapa pun yang di sidang pengadilan bersikap tidak sesuai dengan martabat pengadilan dan tidak menaati tata tertib setelah mendapat peringatan dari hakim ketua sidang, atas perintahnya yang bersangkutan dikeluarkan dari ruang sidang.<\/em><\/p><p><em>(3) Dalam hal pelanggaran tata tertib sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) bersifat suatu tindak pidana, tidak mengurangi kemungkinan dilakukan penuntutan terhadap pelakunya.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><em>Contempt of Court <\/em>sendiri juga diatur dalam Rancangan\nUndang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (\u201c<strong>RUU KUHP<\/strong>\u201d), menurut RUU\nKUHP versi September 2019 diatur dalam Pasal 281 dengan ancaman penjara\nmaksimal 1 tahun atau denda paling banyak Rp 10 juta. Bunyi Pasal 281 RUU KUHP\nadalah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cDipidana dengan pidana denda paling banyak kategori II, Setiap Orang yang pada saat sidang pengadilan berlangsung:<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>1. <em>tidak mematuhi perintah pengadilan yang dikeluarkan untuk kepentingan proses peradilan;<\/em><\/p><p><em>2. bersikap tidak hormat terhadap hakim atau persidangan atau menyerang integritas hakim dalam sidang pengadilan; atau<\/em><\/p><p><em>3. tanpa izin pengadilan merekam, mempublikasikan secara langsung, atau membolehkan untuk dipublikasikan proses persidangan.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Uraian mengenai <em>Contempt\nof Court<\/em> sebagaimana dimaksud di atas menunjukkan bahwa suatu tindakan\ndapat dikategorikan sebagai <em>Contempt of Court<\/em> jika tindakan semacam itu\nmempermalukan dan merongrong otoritas, martabat, dan kehormatan lembaga-lembaga\npengadilan. Oleh karena itu, berdasarkan hukum Indonesia, setiap tindakan yang\ndianggap mempermalukan dan merongrong otoritas, martabat, dan penghormatan\nterhadap: (i) orang yang menjalankan lembaga pengadilan, (ii) produk lembaga\npengadilan, dan (iii) proses kegiatan lembaga pengadilan dapat dikategorikan\nsebagai <em>Contempt of Court<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga bermanfaat <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>FREDRIK J PINAKUNARY LAW OFFICES <br><\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> 6 Fakta Aksi Brutal Pengacara Desrizal &#8216;Gesper&#8217;\nMuka Hakim PN Jakpus, 19 Juli 2019, <a href=\"https:\/\/www.reqnews.com\/the-other-side\/4786\/6-fakta-aksi-brutal-pengacara-desrizal-gesper-muka-hakim-pn-jakpus\">https:\/\/www.reqnews.com\/the-other-side\/4786\/6-fakta-aksi-brutal-pengacara-desrizal-gesper-muka-hakim-pn-jakpus<\/a>, diakses 3 April 2020.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> Tiga Hal yang Harus Kita Ketahui soal &#8220;Contempt\nof Court, 2 Agustus 2019, <a href=\"https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2019\/08\/02\/09061931\/tiga-hal-yang-harus-kita-ketahui-soal-contempt-of-court?page=all#page4\">https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2019\/08\/02\/09061931\/tiga-hal-yang-harus-kita-ketahui-soal-contempt-of-court?page=all#page4<\/a>, diakses 3 April 2020.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masih ingatkah dengan insiden seorang pengacara yang memukul Hakim dengan menggunakan ikat pinggang pada saat pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat? Menurut kabar di media massa, Hakim yang menjadi korban dalam insiden tersebut membuat laporan ke Polres Jakarta Pusat, Hakim tersebut menyebut bahwa tindakan pengacara itu merupakan penghinaan terhadap lembaga peradilan (Contempt of Court).[1] [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29696,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1,79,31,30],"tags":[149],"class_list":["post-29695","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-hukum-acara-perdata","category-hukum-acara-pidana","category-hukum-pidana","tag-contempt-of-court"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29695","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29695"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29695\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29698,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29695\/revisions\/29698"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29696"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29695"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29695"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29695"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}