{"id":29637,"date":"2020-03-16T13:45:27","date_gmt":"2020-03-16T06:45:27","guid":{"rendered":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/?p=29637"},"modified":"2020-03-16T13:45:34","modified_gmt":"2020-03-16T06:45:34","slug":"doktrin-pemisahan-separability-doctrine-dalam-perjanjian-arbitrase","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/doktrin-pemisahan-separability-doctrine-dalam-perjanjian-arbitrase\/","title":{"rendered":"Doktrin Pemisahan (Separability Doctrine) Dalam Perjanjian Arbitrase"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam\nperkara yang melibatkan perjanjian arbitrase cukup sering ditemui argument\npenggugat yang mengajukan gugatan di pengadilan negeri walaupun para pihak\ntelah menyepakati lembaga arbitrase sebagai forum penyelesaian sengketa. Oleh\nkarena itu, artikel ini akan mengulas tentang doktrin pemisahan (separability doctrine)\ndari sebuah perjanjian arbitrase. Undang-Undang Arbitrase Nomor 30 Tahun 1999,\npada Pasal 10 huruf h telah mengatur bahwa eksistensi daya berlaku perjanjian\narbitrase <strong>tidak menjadi hilang<\/strong>\njika sebuah perjanjian awalnya\/pokoknya berakhir atau menjadi batal:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>&#8220;Suatu perjanjian arbitrase <strong>tidak menjadi batal<\/strong> disebabkan oleh keadaan tersebut di bawah ini:<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>a. <em>meninggalnya salah satu pihak;<\/em><\/p><p>b. <em>bangkrutnya salah satu pihak;<\/em><\/p><p><em>c. novasi;<\/em><\/p><p><em>d. insolvensi salah satu pihak;<\/em><\/p><p><em>e. pewarisan;<\/em><\/p><p><em>f. berlakunya syarat-syarat hapusnya perikatan pokok;<\/em><\/p><p><em>g. bilamana pelaksanaan perjanjian tersebut dialihtugaskan pada pihak ketiga dengan persetujuan pihak yang melakukan perjanjian arbitrase tersebut; atau<\/em><\/p><p><strong><em>h. berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok<\/em><\/strong><em>.&#8221; <\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pasal\n10 huruf h UU Arbitrase menerima dan menganut doktrin pemisahan (<em>separability doctrine<\/em>) ke dalam sistem\nhukum Indonesia. Doktrin pemisahan mengatur bahwa suatu perjanjian yang memuat\nklausul arbitrase merupakan dua perjanjian yang terpisah dari perjanjian\npokoknya. Oleh sebab itu, suatu perjanjian yang memuat klausul arbitrase\nmerupakan dua perjanjian yang terpisah, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Perjanjian pokok mengenai\nhak dan kewajiban komersial para pihak; dan<\/li><li>Perjanjian sekunder memuat\nkewajiban-kewajiban untuk menyelesaikan sengketa apapun diantara para pihak\nmelalui arbitrase. <\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Apabila\ntimbul sengketa yang berasal dari atau berkaitan dengan perjanjian pokok maka\nsengketa tersebut harus diselesaikan oleh majelis yang dipilih dalam perjanjian\narbirtase sekunder termasuk sengketa mengenai keabsahan dari perjanjian pokok. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Doktrin\npemisahan (<em>separability<\/em> <em>doctrine<\/em>) yang termuat dalam pasal 10 huruf\nh UU Arbitrase juga didukung oleh pendapat para ahli sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>a)<\/strong> Prof. Erman Radjagukguk, S.H., LL.M., Ph.D dalam keterangannya sebagai ahli dari PARA PEMBANDING di depan persidangan tertanggal 2 Mei 2012 bependapat bahwa:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">&#8220;<em>Jika suatu perjanjian investasi yang memuat\nklausula arbitrase sebagai tempat penyelesaian sengketa dinyatakan sudah\nberkahir. Namun tak berselang lama salah satu pihak menyatakan ada sengketa\nyang belum terselesaikan, maka klausula arbitrase dalam perjanjian tersebut\ntetap berlaku, karena dalam kenyataannya perjanjian belum berakhir, terbukti\ndari masih adanya hal yang dipersengketakan<\/em>.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>b)<\/strong> M. Yahya Harahap, S.H., menyampaikan pendapat yang intinya sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cPerjanjian Klausula Arbitrase yang disepakati para pihak merupakan perjanjian yang otonom, terpisah dari perjanjian pokok. Maksud Pasal 10 huruf h UU Arbitrase No. 30\/1999, adalah Perjanjian Arbitrase tetap sah (wetting, legal\/lawful), sehingga Klausula Arbitrase yang disepakati para pihak tersebut tetap legitimasi dan valid sebagai landasan dasar mengajukan penyelesaian sengketa yang timbul dari perjanjian, meskipun perjanjian itu telah berakhir atau batal.<\/em><\/p><p><em>6.1. Konkritnya, dapat dijelaskan sebagai berikut:<\/em><\/p><p><em>&#8211; meskipun \u201cperjanjian pokok\u201d berakhir atau batal, Klausula Arbitrase sebagai \u201cperjanjian asesor\u201d, tidak berakhir atau tidak batal,<\/em><\/p><p><em>&#8211; oleh karena itu, penyelesaian sengketa yang timbul dari perjanjian pokok itu, tetap sepenuhnya menjadi yurisdiksi\/kompetensi absolut arbitrase<\/em><\/p><p><em>&#8211; dengan demikian berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok, tidak mengakibatkan berakhirnya cara penyelesaian sengketa yang timbul dari perjanjian itu menjadi yurisdiksi\/kompetensi absolut PN.<\/em><\/p><p><em>6.2. Misalkan antara A dan B dibuat perjanjian kredit. Dalam perjanjian A dan B sepakat penyelesaian sengketa oleh Arbitrase. Perjanjian kredit selama 12 (dua belas) bulan. Ternyata sampai jangka waktu berakhirnya perjanjian, B belum membayar sisa hutang\/pinjaman yang masih tertunggak. Dalam kasus yang demikian, meskipun perjanjian kredit telah berakhir, namun Klausula Arbitrase yang disepakati A dan B TIDAK BATAL. Oleh karena itu, penyelesaian sengketa kredit itu tetap menjadi yurisdiksi\/kompetensi absolut Arbitrase. Tidak atau bukan beralih menjadi yurisdiksi\/kompetensi absolut PN.<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>C) <\/strong>Setiawan dalam bukunya &#8220;Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata&#8221;, Penerbit Alumni, Bandung, 1992, halaman 25 berpendapat:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>&#8220;<strong><em>Pada umumnya disepakati bahwa suatu perjanjian arbitrase harus dipandang sebagai suatu perjanjian tersendiri, mandiri serta terlepas dari kontrak induknya<\/em><\/strong>.&#8221;<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>d) <\/strong>Gatot P. Soemartono dalam bukunya &#8220;Arbitrase dan Mediasi di Indonesia&#8221;, halaman 38 berpendapat:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>&#8220;<em>Dalam kaitan dengan klausul arbitrase, hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah prinsip pemisahan (separability principle) yang merupakan doktrin otonomi dari klausul arbitrase (the autonomy of arbitration clause).<strong>Prinsip pemisahan menempatkan klausul arbitrase berdiri-sendiri dan terpisah dari peristiwa-peristiwa lainnya<\/strong>. Misalnya, prinsip ini memisahkan klausul arbirtase dari perjanjian pokok di mana klausul arbitrase berada di dalamnya. Artinya, jika perjanjian tersebut berakhir atau batal, klausul atau pasal mengenai arbitrasenya masih tetap eksis.<\/em>&#8220;<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Doktrin\npemisahan (<em>separability<\/em>&nbsp; <em>doctrine<\/em>)&nbsp; yang termuat dalam Pasal 10 huruf h UU\nArbitrase juga dikenal dalam Pasal 16 UNCITRAL Model Law mengenai Arbitrase\nKomersial Internasional, yang berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u00a0\u201cMajelis arbitrase dapat memutuskan mengenai kewenangannya sendiri, termasuk segala keberatan berkenaan dengan eksistensi atau keabsahan perjanjian arbitrase. Untuk tujuan tersebut, suatu klausul arbitrase yang merupakan bagian dari suatu kontrak harus diperlakukan sebagai suatu perjanjian yang mandiri dari ketentuan-ketentuan lain dari kontrak. Putusan majelis arbitrase yang menyatakan bahwa kontrak tersebut tidak sah tidak secara otomatis mengakibatkan ketidakabsahan klausul arbitrase.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Doktrin\npemisahan (<em>separability<\/em> <em>doctrine<\/em>) yang termuat dalam Pasal 10\nhuruf h UU Arbitrase juga dikenal dalam Pasal 1053 Kitab Undang-Undang Hukum\nPerdata Belanda (<em>Netherlands Code of\nCivil Procedure<\/em>) yang berbunyi: <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u00a0\u201cSuatu perjanjian arbitrase dianggap dan dinilai sebagai suatu perjanjian yang terpisah dan majelis arbitrase mempunyai wewenang untuk memutuskan keabsahan dari perjanjian pokok di mana terdapat klausul arbitrase sebagai bagian dari perjanjian tersebut.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Demikian\npemaparan tentang doktrin pemisahan (<em>separability\ndoctrine) <\/em>&nbsp;menurut peraturan\nperundang-undangan dan juga pendapat para ahli hukum. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga bermanfaat,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>FREDRIK J. PINAKUNARY LAW OFFICES<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam perkara yang melibatkan perjanjian arbitrase cukup sering ditemui argument penggugat yang mengajukan gugatan di pengadilan negeri walaupun para pihak telah menyepakati lembaga arbitrase sebagai forum penyelesaian sengketa. Oleh karena itu, artikel ini akan mengulas tentang doktrin pemisahan (separability doctrine) dari sebuah perjanjian arbitrase. Undang-Undang Arbitrase Nomor 30 Tahun 1999, pada Pasal 10 huruf h [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29638,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[33,123,1,72,43,73],"tags":[126,125,75,143],"class_list":["post-29637","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-advokat","category-arbitrase","category-artikel","category-hukum-perdata","category-hukum-perikatan","category-perjanjian","tag-arbitrase","tag-klausula-arbitrase","tag-perjanjian","tag-separability-doctrine"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29637","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29637"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29637\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29639,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29637\/revisions\/29639"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29638"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29637"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29637"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29637"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}