{"id":29619,"date":"2020-03-12T14:55:11","date_gmt":"2020-03-12T07:55:11","guid":{"rendered":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/?p=29619"},"modified":"2020-06-19T14:01:41","modified_gmt":"2020-06-19T07:01:41","slug":"perbuatan-melawan-hukum-v-wanprestasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/perbuatan-melawan-hukum-v-wanprestasi\/","title":{"rendered":"Perbuatan Melawan Hukum v. Wanprestasi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam praktek hukum acara perdata,\ncukup sering dijumpai gugatan Perbuatan Melawan Hukum diajukan bersama-sama\ndengan dalil-dalil terkait Wanprestasi. Oleh karena itu perlu dijelaskan bahwa\ngugatan yang diajukan berdasarkan Perbuatan Melawan Hukum dan Wanprestasi\ndidasarkan pada dua pengaturan atau ketentuan hukum yang berbeda. Gugatan Wanprestasi diajukan\nberdasarkan peristiwa ingkar atau cidera janji dalam perjanjian dan hal ini\nmewajibkan pihak yang cidera janji tersebut untuk bertanggung jawab. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Menurut Prof. Subektif Wanpretasi\nterjadi jika salah satu pihak dalam perjanjian\u201d Tidak melaksanakan apa yang\ndijanjikan; Melaksanakan apa yang dijanjikan tapi tidak sebagaimana mestinya;\nMelaksanakan apa yang dijanjikan tetapi terlambat dilakukan, dan Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian\ntidak boleh dilakukan. Sedangkan J Satrio berpendapat bahwa&nbsp; wanprestasi adalah suatu keadaan di mana\ndebitur tidak memenuhi janjinya atau tidak memenuhi sebagaimana mestinya dan\nkesemuanya itu dapat dipersalahkan kepadanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Wanprestasi diatur dalam Pasal 1243\nKitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan: <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201c<em>Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan,&nbsp;bila debitur, walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap Ialai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan<\/em>\u201d.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sedangkan untuk gugatan perbuatan melawan hukum pada umumnya\ndiajukan berdasarkan Pasal 1365 Kitab\nUndang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cTiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan ketentuan tersebut, unsur perbuatan melawan\nhukum adalah: Adanya Perbuatan (Melawan Hukum\/onrechtmatig); Adanya Kerugian\n(Schadel),\nantara tindakan dan kerugian harus ada hubungan sebab akibat (causaliteitverband);\nKerugian disebabkan kesalahan (schuld). Yurisprudensi Mahkamah Agung R.I No. 2831 K\/Pdt\/1996\ntertanggal 7 Juli 1996, menetapkan bahwa Penggugat harus membuktikan\nadanya unsur-unsur perbuatan melawan hukum menurut ketentuan Pasal 1365 KUH\nPerdata, yakni sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>1. Suatu Perbuatan Melawan Hukum <\/strong>&#8211; adanya perbuatan Tergugat yang bersifat melawan hukum;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Praktik peradilan Indonesia menerapkan standar baku (standardarrest) Hoge\nRaad tertanggal 31 Januari 1919 mengenai pengertian perbuatan<em> melawan hukum (\u201c<\/em>Onrechtmatige daad\u201d)\nmenyatakan : <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cPengertian Onrechtmatige daad termasuk pula perbuatan yang memperkosa suatu hak orang lain atau bertentangan dengan kewajiban hukum si pembuat sendiri atau bertentangan dengan kesusilaan atau dengan suatu kepatutan di dalam masyarakat baik terhadap orang maupun benda lain\u201d.<\/em><\/p><cite> <em>(Chidir Ali, SH., Badan Hukum, halaman 202, Alumni, Bandung, 1999).<\/em> <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>2.<\/strong> <strong>Kerugian <\/strong>&#8211; adanya kerugian yang ditimbulkan pada diri Penggugat;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro, S.H. menjelaskan:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cKerugian kini harus diambil dalam arti yang luas, tidak hanya mengenai kekayaan harta benda seseorang, melainkan juga mengenai kepentingan-kepentingan lain dari seorang manusia, yaitu tubuh, jiwa dan kehormatan seorang\u201d<\/em><\/p><cite>(Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro, SH., Perbuatan Melanggar Hukum: Dipandang Dari Sudut Hukum Perdata, halaman 16, CV. Mandar Maju, Bandung, 2000); <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3.<\/strong> <strong>Kesalahan dan Kelalaian <\/strong>&#8211; adanya kesalahan atau kelalaian pada pihak Tergugat;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">&nbsp;Unsur\nkesalahan menurut J. Satrio:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201c &#8230;&#8230;\u201dkesalahan\/schuld\u201d di sini adalah sesuatu yang tercela, yang dapat dipersalahkan, yang berkaitan dengan perilaku dan akibat perilaku, yaitu kerugian, perilaku dan kerugian mana dapat dipersalahkan dan karenanya dapat dipertanggungjawabkan kepadanya.\u201d<\/em><\/p><cite> <em>(R. Setiawan, SH., Pokok-Pokok Hukum Perikatan, halaman 84,&nbsp; Binacipta, Bandung, Cetakan Kelima, 1994).<\/em> <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>4.<\/strong> <strong>Hubungan Kausal <\/strong>&#8211; adanya hubungan kausalitas atau sebab akibat antara kerugian pihak Penggugat dengan kesalahan atau perbuatan yang dilakukan oleh Tergugat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berikut ini akan disampaikan tentang\npendapat para ahli hukum yang menjelaskan tentang perbedaan antara wanprestasi\n(breach of contract\/default) danperbuatan\nmelawan hukum (unlawful act\/tort).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Mantan Hakim Agung, M. Yahya\nHarahap, dalam bukunya \u201cHukum Acara Perdata\u201d Sinar Grafika, Jakarta, Edisi\npertama, April 2005, halaman 455 dan 456 antara lain menyatakan:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cDari uraian diatas, pada dasarnya tidak sama antara wanprestasi dengan Perbuatan Melawan Hukum ditinjau dari sumber, bentuk maupun wujudnya. Oleh karena itu, dalam merumuskan posita atau dalil gugatan <\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>&#8211; <em>tidak dibenarkan mencampuradukkan wanprestasi dengan Perbuatan Melawan Hukum dalam gugatan;<\/em><\/p><p>&#8211;<em> dianggap keliru merumuskan dalil Perbuatan Melawan Hukum dalam gugatan jika yang terjadi, in konkreto secara realistis adalah wanpresti<\/em><\/p><p>&#8211; <em>atau tidak tepat jika gugatan mendalilkan wanprestasi sedang peristiwa hukum yang terjadi secara objektif adalah Perbuatan Melawan Hukum\u201d.<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Selanjutnya,\nProf. Mr. Pitlo dalam bukunya yang berjudul: <em>Het verbintenissen recht naar het nerderlands bugerlijk wet boek\u201d,<\/em>\ncetakan ke-3, tahun 1952 halaman 215 menyatakan:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201chet is echter duidelijk, zowel uit de historie als uit de systematiek der wet, dot <strong>wanprestasie niet onder het begrip onrehctmatige daad valt.\u201d.<\/strong><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terjemahan bebas:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cNamun demikian jelas, baik menurut sejarah maupun sistimatika undang-undang, <strong>bahwa wanprestasi tidak termasuk dalam pengertian perbuatan melawan hukum<\/strong>.<strong>\u201d.<\/strong><\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sejalan\ndengan itu, ahli hukum Ian Fleming dalam bukunya berjudul Law of Tort 7 edn,\nLaw Book Co. 1987 menjelaskan sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cTort is an injury other than a breach of contract which the law will redress with damages\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;Terjemahan bebas:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cPerbuatan melawan hukum adalah suatu <strong>bentuk pelanggaran di luar pelanggaran atas suatu perjanjian<\/strong> yang dapat diberi ganti rugi berdasarkan hukum\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pendapat-pendapat para ahli di atas\npun diperkuat oleh Dr. Higgins dalam bukunya berjudul Elements of Tort in\nAustralia, Butterworths 1978 yang menyatakan:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cA tort is an act or omission which is unauthorized by law and independently or either contact, trust, or other fiduciary duty\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026..\u201d<\/em> <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terjemahan bebas:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cTort adalah suatu perbuatan atau tidak berbuat sesuatu yang tidak berdasarkan hukum <strong>di luar perjanjian<\/strong>, trust atau kewajiban hukum yang terbit dari kepercayaan lain, \u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Adapun pendapat Ian Fleming dan Dr. Higgins tersebut dapat dilihat dalam Artikel Karangan Suwidya Abdullah, SH.,LL.M. yang berjudul &#8220;Perbandingan antara &#8216;Law of Torts&#8217; dan &#8216;Onrechtmatigedaad&#8221; yang dimuat di Majalah Varia Peradilan Majalah Hukum Tahun XVII No. 193 Oktober 2001, halaman 136-141.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga bermanfaat,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>FREDRIK J. PINAKUNARY LAW OFFICES<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam praktek hukum acara perdata, cukup sering dijumpai gugatan Perbuatan Melawan Hukum diajukan bersama-sama dengan dalil-dalil terkait Wanprestasi. Oleh karena itu perlu dijelaskan bahwa gugatan yang diajukan berdasarkan Perbuatan Melawan Hukum dan Wanprestasi didasarkan pada dua pengaturan atau ketentuan hukum yang berbeda. Gugatan Wanprestasi diajukan berdasarkan peristiwa ingkar atau cidera janji dalam perjanjian dan hal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29620,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[33,1,79,72],"tags":[140,141,106],"class_list":["post-29619","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-advokat","category-artikel","category-hukum-acara-perdata","category-hukum-perdata","tag-gugatan","tag-perbuatan-melawan-hukum","tag-wanprestasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29619","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29619"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29619\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29903,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29619\/revisions\/29903"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29620"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29619"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29619"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29619"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}