{"id":29572,"date":"2020-03-02T15:14:59","date_gmt":"2020-03-02T08:14:59","guid":{"rendered":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/?p=29572"},"modified":"2020-03-02T15:15:06","modified_gmt":"2020-03-02T08:15:06","slug":"pengertian-arbitrase-dan-akibat-hukum-klausula-arbitrase","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/pengertian-arbitrase-dan-akibat-hukum-klausula-arbitrase\/","title":{"rendered":"Pengertian Arbitrase dan akibat hukum Klausula Arbitrase"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Arbitrase\ntelah menjadi salah satu forum penyelesaian sengketa yang diminati oleh pelaku\nbisnis, selain lembaga pengadilan yang pada umumnya menjadi tempat atau forum\npenyelesaian sengketa. Oleh karena itu artikel ini akan membahas tentang\npengertian dan akibat hukum dari klausula arbitrase dalam sebuah perjanjian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pengertian<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pasal\n1.1 UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa\n(UU Arbitrase No.30\/1999) telah memberikan definisi bahwa arbitrase merupakan\nperjanjian yang menyepakati cara penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Penyelesaian\nsengketa melalui cara di luar peradilan tersebut didasarkan pada perjanjian\narbitrase yang biasa disebut <strong>Klausula Arbitrase<\/strong> yang menegaskan bahwa perselisihan\ntidak diajukan ke Pengadilan Negeri akan tetapi diajukan dan diselesaikan oleh lembaga\narbitrase. Perjanjian arbitrase itu harus dibuat <strong>secara tertulis <\/strong>dan tidak\ndibenarkan secara lisan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Rumusan Pasal 1.1 UU Arbitrase No. 30\/1999\nselengkapnya menyatakan :<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cArbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersangkutan\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Berdasarkan pengertian yang dirumuskan Pasal\n1.1 UU Arbitrase No.30\/1999 di atas, jika dalam suatu perjanjian para pihak menyepakati Klausula Arbitrase,\nmaka hal itu mengandung arti, bahwa para\npihak sepakat bahwa cara penyelesaian sengketa yang timbul dari\nperjanjian itu diselesaikan di luar\npengadilan (<em>out of court<\/em>), akan tetapi cara penyelesaian sengketa itu,\ndilakukan oleh Arbitrase.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Akibat hukum <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Adapun akibat hukum yang ditimbulkan Klausula Arbitrase diatur dan ditegaskan dalam Pasal 3 jo. Pasal 11 UU Arbitrase No.30\/1999, dapat dijelaskan sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>(1).<\/strong>  Mengakibatkan gugur atau kehilangan kewenangan dari Pengadilan Negeri untuk mengadili sengketa yang timbul dari perjanjian tersebut. Oleh karena itu, akibat hukum pertama yang ditimbulkan Klausula Arbitrase adalah mengakibatkan Pengadilan Negeri <strong>tidak berwenang <\/strong>mengadili perkara\/sengketa yang timbul dari perjanjian yang bersangkutan. Artinya, sengketa\/perkara yang timbul dari perjanjian tersebut:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Secara <strong>mutlak<\/strong> atau absolut <strong>menjadi yurisdiksi atau kompetensi absolut \u00a0lembaga arbitrase yang dipilih, <\/strong>dan<\/li><li>Pengadilan Negeri secara mutlak atau absolut <strong>tidak memiliki yurisdiksi atau kompetensi lagi untuk mengadilinya<\/strong>.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal itulah yang ditegaskan dalam Pasal 3 UU Arbitrase No.30\/1999, yang menyatakan :<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cPengadilan Negeri <strong>tidak berwenang<\/strong> untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Penerapan\nketentuan tersebut antara lain ditegaskan dalam Putusan Mahkamah Agung No.175 K\/Pdt\/2005 tanggal 12 Desember 2006\nyang menyatakan:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cSesuai dengan yurisprudensi tetap Mahkamah Agung telah digariskan suatu kaedah hukum bahwa Klausula Arbitarse yang ada dalam perjanjian adalah termasuk wewenang absolut dari Badan Arbitarse, sehingga menghadapi masalah ini Hakim Pengadilan Umum karena jabatannya harus menyatakan dirinya tidak berwenang untuk mengadili gugatan tersebut. Arbitrase sebagai <strong>Extra Judicial<\/strong> yang lahir dari Klausula Arbitrase dari suatu perjanjian mempunyai <strong>legal effect<\/strong> memberi kewenangan absolut kepada Badan Arbitrase untuk menyelesaikan sengketa yang timbul dari perjanjian berdasarkan <strong>pacta sun servanda<\/strong>\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>(M. Ali Boediarto, SH., Kompilasi Kaedah Hukum Putusan MA, Hukum Acara Perdata, Swara Justitia, 2005, Jakarta halaman 130).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Demikian akibat hukum utama yang ditimbulkan oleh Klausula Arbitrase.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>(2)<\/strong>  Akibat hukum berikut yang ditimbulkan Klausula Arbitrase, diatur dalam Pasal 11 UU Arbitrase No.30\/1999 yang menyatakan: <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>(i)<\/strong> <strong>Meniadakan hak<\/strong> para pihak untuk mengajukan gugatan atau penyelesaian sengketa yang timbul dari perjanjian itu ke PN.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Hal ini ditentukan dalam Pasal 11 Ayat (1),\nyang berbunyi :<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cAdanya suatu perjanjian arbitrase tertulis <strong>meniadakan hak para pihak untuk mengajukan penyelesaian sengketa<\/strong> atau beda pendapat yang termasuk dalam perjanjian ke Pengadilan Negeri\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam perspektif Bahasa Indonesia, menurut Kamus Bahasa Indonesia (WJS Poerwadaminta, Balai Pustaka, 1976, h. 1067) arti kata <strong>meniadakan<\/strong> adalah <strong>menghapuskan<\/strong> atau <strong>mencabut.<\/strong> <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Jadi, jika ketentuan Pasal 11 Ayat (1) tersebut dikaitkan dengan makna bahasa, berarti <strong>hapus<\/strong> atau <strong>hilang<\/strong> maupun <strong>dicabut<\/strong> hak para pihak untuk mengajukan penyelesaian sengketa yang timbul dari perjanjian yang menyepakati Klausula Arbitrase. Oleh karena itu, menurut hukum, sengketa\/gugatan yang diajukan ke Pengadilan Negeri oleh pihak yang tidak berhak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>(ii)<\/strong> Akibat hukum kedua yang ditegaskan dalam Pasal 11 Ayat (2) adalah Pengadilan Negeri berkewajiban untuk <strong>menolak<\/strong> atau <strong>tidak campur tangan<\/strong> dalam penyelesaian sengketa yang timbul dari perjanjian yang menyepakati Klausula Arbitrase. Pasal 11 Ayat (2) UU Arbitrase No.30\/1999 menyatakan :<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cPengadilan Negeri <strong>wajib menolak dan tidak akan campur tangan<\/strong> di dalam suatu penyelesaian sengekta yang telah ditetapkan melalui arbitrase\u2026\u2026..\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Ketentuan\nPasal 11 Ayat (2) ini, bersifat impeatif atau <strong>hukum memaksa<\/strong> (<strong><em>dwingendrecht,\nmandatory law<\/em><\/strong>) karena dalam rumusan pasal itu tercantum kata <strong>wajib<\/strong> yakni : Pengadilan Negeri wajib\nmenolak dan tidak campur tangan dalam penyelesaian sengketa tersebut. Oleh\nkarena itu, tidak ada jalan lain bagi Pengadilan Negeri selain dari <strong>wajib\nmenolak <\/strong>gugatan yang diajukan kepadanya, apabila ternyata terbukti sengketa\nyang diajukan timbul dari perjanjian (<strong><em>arising from the agreement\/contract<\/em><\/strong>)\nyang menyepakati Klausula Arbitrase.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Demikian penjelasan yang berhubungan dengan pengertian dan akibat hukum yang timbul dari Klausula Arbitrase menurut ketentuan Pasal 3 jo. Pasal 11 UU Arbitrase No. 30 \/ 1999.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Selain uraian di atas, penegakkan hukum yang menyingkirkan atau mengeyampingkan yurisdiksi atau kompetensi Pengadilan Negeri\u00a0 untuk mengadili sengketa atau perkara yang menyepakati Klausula Arbitrase, telah melahirkan Yurisprudensi yang bersifat <strong>stare decisis <\/strong>atau <strong>yurisprudensi tetap<\/strong> dalam pratek peradilan, antara lain:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>(1)<\/strong>  Putusan Mahkamah Agung No.225 K\/Sip\/1976 tanggal 20 September 1983 antara GAPKI TRADING Co. Ltd vs WONG HECK GOUNG, mengatakan :<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201c\u2026..karena dalam Agreement Joint Venture tanggal 25 Nopember 1969 telah disepakati bersama adanya Klausula Arbitrase yang menimbulkan sengketa antara mereka akan diselesaikan oleh Dewan Arbitrase. Berpegang pada kesepakatan dalam Agreement ini, maka Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena jabatannya, harus menyatakan bahwa Pengadilan Negeri tidak berwenang mengadili perkara tersebut, tanpa digantungkan pada adanya eksepsi Kompetensi Absolut yang diajukan oleh Tergugat\u201d<\/em><\/p><p>(Ibid, M. Ali Boediarto, SH., halaman 122).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><strong>(2) <\/strong> Putusan Mahkamah Agung No.3179K\/Pdt \/1984 tanggal 4 Mei 1988, antara PT ARPENI PRATAMA OCEAN LINE vs PT SHORA MAS, yang menyatakan: <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cPengadilan Negeri tidak berwenang memeriksa dan mengadili gugatan perdata tentang suatu perjanjian yang di dalamnya memuat Klausula Arbitrase, baik gugatan Konpensi maupun dalam Rekonpensi\u201d<\/em><\/p><p>(Ibid, M. Ali Boediarto, SH., h. 123)<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga bermanfaat,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>FREDRIK J. PINAKUNARY LAW OFFICES<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Arbitrase telah menjadi salah satu forum penyelesaian sengketa yang diminati oleh pelaku bisnis, selain lembaga pengadilan yang pada umumnya menjadi tempat atau forum penyelesaian sengketa. Oleh karena itu artikel ini akan membahas tentang pengertian dan akibat hukum dari klausula arbitrase dalam sebuah perjanjian. Pengertian Pasal 1.1 UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase Dan Alternatif [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29573,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[33,124,123,1,72,73],"tags":[127,126,125],"class_list":["post-29572","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-advokat","category-alternatif-penyelesaian-sengketa","category-arbitrase","category-artikel","category-hukum-perdata","category-perjanjian","tag-alternatif-penyelesaian-sengketa","tag-arbitrase","tag-klausula-arbitrase"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29572","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29572"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29572\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29574,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29572\/revisions\/29574"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29573"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29572"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29572"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29572"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}