{"id":29403,"date":"2020-01-15T18:01:55","date_gmt":"2020-01-15T11:01:55","guid":{"rendered":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/?p=29403"},"modified":"2020-01-15T18:02:02","modified_gmt":"2020-01-15T11:02:02","slug":"bagasi-hilang-dan-pengaturan-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/bagasi-hilang-dan-pengaturan-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Bagasi Hilang dan Pengaturan di Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Bagasi hilang bukan merupakan kasus yang\nbaru di Indonesia. Hal yang lazim kita lakukan saat mengetahui bagasi kita\nhilang adalah melapor ke pihak penerbangan, untuk kasus yang beruntung, bagasi\nnya akan dikembalikan walaupun membutuhkan waktu tidak menentu, terkadang bisa\ncepat namun bisa juga lambat. Namun di beberapa kasus yang lain, ada bagasi\nyang hilang lalu tidak ketemu.&nbsp; Kalau\nsudah terjadi hal seperti ini, apakah yang bisa kita lakukan? Yang bisa kita\nlakukan adalah meminta ganti rugi terkait dengan bagasi kita yang hilang\ntersebut. Bagaimana perhitungannya? Apakah peraturan di Indonesia sudah ada\nyang membahas hal tersebut?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Mari hal ini kita bahas dari hukum\ninternasional terlebih dahulu, Indonesia saat ini telah meratifikasi <em>Convention\nfor the Unification of Certain Rules for International Carriage by Air<\/em>\n(Konvensi Unifikasi Aturan-Aturan Tertentu Tentang Angkutan Udara\nInternasional), atau yang lebih dikenal dengan Konvensi Montreal 1999 yang\nmerupakan amandemen dari Konvensi Warsawa 1929 yang telah ditetapkan oleh <em>International\nCivil Association Organization<\/em> (ICAO). <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Ratifikasi Konvensi Montreal 1999 ini\ntelah diadopsi ke dalam peraturan nasional Indonesia melalui Peraturan Presiden\nRepublik Indonesia Nomor: 95 tahun 2016 tanggal 21 November 2016 tentang\nPengesahan Konvensi Unifikasi Aturan-Aturan Tertentu Tentang Angkutan Udara\nInternasional. Peraturan Presiden tersebut mulai berlaku sejak 23 November\n2016.<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dengan diratifikasinya Konvensi Montreal\n1999 tersebut, Indonesia kini dapat menerapkan ketentuan-ketentuan yang telah\ndiatur di dalam Konvensi Montreal 1999 ke dalam regulasi nasionalnya dan juga sebagai bentuk perlindungan terhadap warga negara\nIndonesia apabila menjadi korban yang terdampak kerugian pada penerbangan\nInternasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Adapun nilai terbaru tanggung jawab\npengangkut sesuai dengan yang telah ditentukan dalam Konvensi Montreal 1999\nadalah:<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><em>Jumlah kompensasi bagi penumpang yang meninggal atau menderita akibat\nkecelakaan pesawat udara sampai dengan 113.100 Special Drawing Rights (SDR)\nsesuai dengan Pasal 21 ayat (1);<\/em><\/li><li><em>Jika penumpang ingin mengajukan klaim melebihi batas 113.100 SDR tersebut,\nberlaku asas tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan (liability based on\nfault). Maskapai penerbangan harus membuktikan bahwa tidak ada kesalahan yang\ndisengaja di pihaknya sesuai dengan Pasal 21 ayat (2);<\/em><\/li><li><em>Dalam hal kerugian yang diakibatkan oleh keterlambatan pesawat udara,\nmaskapai penerbangan wajib memberikan kompensasi maksimum 4.694 SDR sesuai\ndengan Pasal 22 ayat (1);<\/em><\/li><li><strong><em>Untuk kehilangan, kerusakan, ataupun musnahnya barang bawaan dan bagasi,\ntanggung jawab pengangkut udara dibatasi sampai dengan maksimum 1.131 SDR\nsesuai dengan Pasal 22 ayat (2);<\/em><\/strong><\/li><li><em>Untuk pengiriman kargo, pada kerusakan, kehilangan, keterlambatan, atau\nmusnahnya kargo, pengirim berhak atas ganti rugi maksimum 19 SDR per kilogram\nsesuai dengan Pasal 22 ayat (3);<\/em><\/li><\/ol>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>(1 SDR setara dengan sekitar 1,38 USD berdasarkan data IMF per tanggal 2 Januari 2019)<a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sedangkan hukum nasional yang mengatur\nmengenai penerbangan domestik tercantum pada Peraturan Menteri Perhubungan No.\nPM 77 tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara (\u201c<strong>Permenhub\n77\/2011<\/strong>\u201d).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam Pasal 2 Permenhub 77\/2011 disebutkan\nbahwa:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Pengangkut yang mengoperasikan pesawat udara wajib bertanggung jawab atas kerugian terhadap:<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><em>Penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap, atau luka-luka;<\/em><\/li><li><em>Hilang atau rusaknya bagasi kabin;<\/em><\/li><li><strong><em>Hilang, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat;<\/em><\/strong><\/li><li><em>Hilang, musnah, atau rusaknya kargo;<\/em><\/li><li><em>Keterlambatan angkutan udara;<\/em><\/li><li><em>Kerugian yang diderita oleh pihak ketiga.<\/em><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam Pasal 2 huruf c PM 77\/2011 tersebut\ndisebutkan bahwa \u201chilang, musnah, atau rusaknya <strong>bagasi tercatat<\/strong>\u201d.\nPengertian dari bagasi tercatat itu sendiri terdapat dalam Undang-Undang No. 1\nTahun 2009 tentang Penerbangan (\u201c<strong>UU Penerbangan<\/strong>\u201d). Dalam Pasal 1 angka\n24 dan 25 disebutkan pengertian dari Bagasi Tercatat dan Bagasi Kabin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><em>Pasal 1 angka 24 UU\nPenerbangan<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Bagasi Tercatat adalah barang penumpang yang diserahkan oleh penumpang kepada pengangkut untuk diangkut dengan pesawat udara yang sama.<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><em>Pasal 1 angka 25 UU\nPenerbangan<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Bagasi Kabin adalah barang yang dibawa oleh penumpang dan berada dalam pengawasan penumpang sendiri.<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Beranjak dari pengertian bagasi kabin dan bagasi\ntercatat, kita berlanjut ke masalah jumlah ganti kerugian yang harus diberikan\npengangkut kepada penumpang yang\nmengalami kehilangan, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat. Hal ini diatur\ndalam Pasal 5 Permenhub 77\/2011, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><em>Pasal 5 Permenhub 77\/2011<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><em>Jumlah ganti kerugian terhadap penumpang yang mengalami kehilangan, musnah\natau rusaknya bagasi tercatat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c\nditetapkan sebagai berikut:<\/em><\/li><li><strong><em>kehilangan bagasi tercatat atau isi bagasi tercatat atau bagasi tercatat\nmusnah diberikan ganti kerugian sebesar Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah)\nper kg dan paling banyak Rp. 4.000.000,00 (empat juta rupiah) per penumpang<\/em><\/strong><em>; dan<\/em><\/li><li><strong><em>kerusakan bagasi tercatat, diberikan ganti kerugian sesuai jenisnya bentuk,\nukuran dan merek bagasi tercatat<\/em><\/strong><em>.<\/em><\/li><li><em>Bagasi tercatat dianggap hilang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila\ntidak diketemukan dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender sejak tanggal dan\njam kedatangan penumpang di bandar udara tujuan.<\/em><\/li><li><em>Pengangkut wajib memberikan uang tunggu kepada penumpang atas bagasi\ntercatat yang belum ditemukan dan belum dapat dinyatakan hilang sebagaimana\ndimaksud pada ayat (2) sebesar Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) per hari\npaling lama untuk 3 (tiga) hari kalender.<\/em><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Meski demikian, menurut Pasal 6 ayat 1 dan ayat\n2 Permenhub 77\/2011, maskapai\ndibebaskan dari tuntutan ganti rugi terhadap barang berharga yang disimpan\ndalam bagasi tercatat, kecuali pada saat <em>check-in<\/em> penumpang telah\nmenyatakan dan menunjukkan bahwa di dalam bagasi tercatat terdapat barang\nberharga, dan maskapai setuju untuk mengangkutnya. Dan apabila maskapai menyetujui\nbarang berharga di dalam bagasi tercatat tersebut biasanya maskapai akan\nmeminta penumpang untuk mengasuransikan bagasi tersebut.<a href=\"#_ftn4\">[4]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Selain dari hal-hal yang disebutkan di atas,\nmenurut Pasal 176 UU Penerbangan, penumpang, pemilik bagasi kabin, pemilik\nbagasi tercatat dapat mengajukan gugatan terhadap pengangkut di pengadilan\nnegeri di wilayah Indonesia dengan menggunakan hukum Indonesia.<a href=\"#_ftn5\">[5]<\/a>\nHal ini dinyatakan kembali dalam Pasal 23 Permenhub 77\/2011 yaitu besaran ganti\nkerugian yang diatur dalam peraturan ini tidak menutup kesempatan kepada\npenumpang, ahli waris, penerima kargo, atau pihak ketiga untuk menuntut\npengangkut ke pengadilan negeri di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik\nIndonesia atau melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa lain\nsesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sebagai contoh kasus bagasi yang hilang, Penulis\nakan mengambil contoh kasus antara Mahsin dan Garuda Indonesia dengan nomor\npenerbangan GA 830 dengan rute Cengkareng-Singapura-Kualanamu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dilansir dari kumparan.com, saat di Changi\nAirport, Singapura, Mahsin kehilangan koper seberat 11 kg. Mahsin mengajukan\ngugatan ke Badan Perlindungan Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Medan. Dalam\nputusannya, BPSK Medan meminta Garuda Indonesia membayar ganti rugi sebesar Rp\n38.520.000,00 dikurangi penyusutan 40 persen atau Rp 23.124.000,00. Putusan\nBPSK Medan digugat Garuda ke Pengadilan Negeri Medan. Namun, PN Medan\nmenguatkan putusan BPSK Medan. Menanggapi putusan PN Medan, Garuda mengajukan\nkasasi ke Mahkamah Agung. Majelis Hakim MA yang dipimpin Mahdi Soroinda\nNasution kembali menguatkan putusan sebelumnya.<a href=\"#_ftn6\">[6]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam putusan nomor 1317 K\/Pdt.Sus-BPSK\/2017,\nHakim Mahkamah Agung menilai bahwa Garuda Indonesia telah lalai dalam mengawasi\nbagasi penumpang yang merupakan bagasi tercatat yang berada dalam pengawasan\nGaruda Indonesia yang ditempatkan pada bagian bagasi yang menjadi tanggung\njawab Garuda Indonesia selama penerbangan, sehingga Garuda Indonesia selaku\npengusaha angkutan udara yang telah mengoperasikan pesawat angkutan udara\nbertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang dalam penerbangan\ntersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Kesimpulannya adalah, Indonesia telah mempunyai\nregulasi nasional terkait dengan hilangnya bagasi dengan penerbangan domestik\ndan telah pula meratifikasi konvensi internasional yang mengatur ganti rugi\nterhadap hal yang sama untuk penerbangan internasional. Jadi apabila Anda warga\nnegara Indonesia yang kehilangan bagasi di dalam penerbangan domestik atau internasional sudah terlindungi dengan\nperaturan-peraturan mengenai ganti rugi oleh maskapai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga bermanfaat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Fredrik J Pinakunary Law Offices<\/strong><br><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> RATIFIKASI\nKONVENSI MONTREAL (MC) 1999, INDONESIA MENINGKATKAN DAYA TAWAR DI PENERBANGAN\nINTERNASIONAL, <a href=\"http:\/\/hubud.dephub.go.id\/?id\/news\/detail\/3019\">http:\/\/hubud.dephub.go.id\/?id\/news\/detail\/3019<\/a>,\n16 Februari 2017.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> <em>Ibid<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a>\nSDR Valuation, <a href=\"https:\/\/www.imf.org\/external\/np\/fin\/data\/rms_sdrv.aspx\">https:\/\/www.imf.org\/external\/np\/fin\/data\/rms_sdrv.aspx<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a> Kompensasi\nBagasi Hilang saat Penerbangan yang Harus Kamu Tahu, <a href=\"https:\/\/medium.com\/pergi-com\/kompensasi-bagasi-hilang-saat-penerbangan-yang-harus-kamu-tahu-85892614af35\">https:\/\/medium.com\/pergi-com\/kompensasi-bagasi-hilang-saat-penerbangan-yang-harus-kamu-tahu-85892614af35<\/a>,\n17 Juli 2014<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref5\">[5]<\/a> Ketentuan\nGanti Kerugian Jika Bagasi Hilang atau Rusak di Pesawat, <a href=\"https:\/\/www.hukumonline.com\/klinik\/detail\/ulasan\/lt4e6e6e4b7943d\/ketentuan-ganti-kerugian-jika-bagasi-hilang-atau-rusak-di-pesawat\/\">https:\/\/www.hukumonline.com\/klinik\/detail\/ulasan\/lt4e6e6e4b7943d\/ketentuan-ganti-kerugian-jika-bagasi-hilang-atau-rusak-di-pesawat\/<\/a>,\n14 September 2011<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"#_ftnref6\">[6]<\/a>\nLalai, Garuda Indonesia Harus Ganti Rugi Bagasi Penumpang yang Hilang, <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparannews\/lalai-garuda-indonesia-harus-ganti-rugi-bagasi-penumpang-yang-hilang\">https:\/\/kumparan.com\/kumparannews\/lalai-garuda-indonesia-harus-ganti-rugi-bagasi-penumpang-yang-hilang<\/a>,\n22 Januari 2018.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagasi hilang bukan merupakan kasus yang baru di Indonesia. Hal yang lazim kita lakukan saat mengetahui bagasi kita hilang adalah melapor ke pihak penerbangan, untuk kasus yang beruntung, bagasi nya akan dikembalikan walaupun membutuhkan waktu tidak menentu, terkadang bisa cepat namun bisa juga lambat. Namun di beberapa kasus yang lain, ada bagasi yang hilang lalu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29404,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1,27],"tags":[39,40,42,41],"class_list":["post-29403","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-penerbangan","tag-bagasi","tag-bagasi-hilang","tag-hukum-indonesia","tag-hukum-penerbangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29403","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29403"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29403\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29405,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29403\/revisions\/29405"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29404"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29403"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29403"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fjp-law.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29403"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}